RSS

Category Archives: Sosial

PARTISIPASI dan MUSRENBANG

Menimbang Kembali Metode Musrenbang

Kata PARTISIPASI  mungkin sudah menjadibinangkit-h-19.jpg semacam mantra. Praktisi pembangunan masyarakat di Indonesia biasa merapalnya tiga kali sehari. Konon, malahan ada yang menjadikan partisipasi sebagai “agama”. Mereka yakin benar jimat yang satu ini ampuh untuk membuka kultur bisu masyarakat dan menembus barikade struktur kekuasaan yang menindas. Dulu, mantra ini memang pernah begitu ditakuti, keramat, dan dianggap berbahaya. Hanya sedikit kalangan yang menguasai mantra ini, itupun dilakukan sambil sembunyi-sembunyi. Salah satu diantara segelintir kalangan itu adalah LSM.

Tetapi sekarang mantra ini bisa dirapal siapa saja dan di mana saja. Meminjam istilah George Ritzer dalam The McDonaldization of Society: An Investigation into The Changing Character of Contemporary Social Life (1993) partisipasi sudah mirip Mc Donald. Partisipasi layaknya fast food, dijual massal, instan, dan menjadi bagian dari gaya hidup. Para aktivis biasanya merasa makin keren dan modis jika memakai atribut partisipasi. Tetapi ini juga yang menjadi soal. Barangkali karena bisa didapatkan dengan cepat, mantra itu seperti kehilangan nilai keramatnya sekarang. Seperti juga hidangan cepat saji ala Mc Donald, partisipasi makin berlemak dan berkolesterol tinggi. Tidak lagi menyehatkan, mengalami banyak degradasi, dan penyusutan makna di sana sini. Partisipasi yang berlangsung secara massal punya peluang untuk tergelincir menjadi mobilisasi.

Itulah kira-kira yang sedang dikeluhkan para pendekar otonomi desa dan Musrenbang. Perjuangan panjang melakukan advokasi agar partisipasi diadopsi dalam mekanisme perencanaan dan pembangunan cukup sukses. Kata partisipasi menghiasi peraturan perundang-undangan yang mengatur proses perencanaan dan pembangunan.

Masyarakat Bukan Relawan BAPPEDA

Tetapi mereka gundah karena dalam praktek partisipasi tidak bisa dikerjakan semudah membalik telapak tangan. Proses partisipasi dalam Musrenbang dirasakan terlalu lama, dengan hasil yang tidak selalu menyentuh hajat hidup masyarakat desa. Berikut adalah daftar lengkap kegundahan mereka. :

  1. Mengetahui siapa pemenang Pilkada saja hanya perlu waktu 4 jam, mengapa mengetahui keinginan publik atas nama partisipasi dibutuhkan waktu hampir setahun?
  2. Masyarakat tidak dibayar, tapi BAPPEDA digaji. Buat apa masyarakat ikut Musrenbang, capek-capek menjadi relawan BAPPEDA, lebih baik kerja cari duit. Apalagi yang datang pada Musrenbang orangnya itu-itu juga.
  3. Musrenbang cuma menjadi media bagi pemerintah desa untuk berdialog dengan dirinya sendiri. Hasilnya hampir tidak pernah dirujuk dalam rencana daerah.
  4. Perencanaan partisipatif dalam Musrenbang tidak sanggup memulihkan hak-hak rakyat. Partisipasi hanya menjadi alat untuk menggugurkan kewajiban pemerintah. Partisipasi tidak fun, membosankan. Rembukan terus, kapan kerjanya?

Di tengah-tengah kegundahan itu, berkembang gagasan mengubah metode partisipasi dengan survei dan Geografic Information System (GIS) atau Sistem Informasi Geografis (SIG).

Perencanaan dalam proses Musrenbang dapat dibagi ke dalam 2 kategori: perencanaan pelayanan publik, dan perencanaan infrastruktur. Untuk perencanaan kategori pertama, bisa digunakan hasil survei kepuasan pelayanan dengan tolok ukur Standard Pelayanan Minimum. Survei ini sepenuhnya difasilitasi oleh Bappeda dan SKPD, bahkan kalau perlu pihak ketiga. Survei akan menghasilkan preferensi masyarakat terhadap suatu jenis pelayanan plus tingkat kepuasan mereka atas pelayanan yang telah diberikan.

GIS digunakan untuk perencanaan infrastruktur. Memang investasi GIS mahal, tapi jauh lebih murah ketimbang dampak yang dihasilkan dari ketidakakuratan dan ketidakefisienan perencanaan.

Musrenbang Pakai Survei dan GIS?

Hasil ujicoba LOGICA dia Aceh konon cukup menggembirakan. Dengan kedua instrumen ini korupsi di pemerintahan yang sering terjadi sewaktu mark up dan mark down bisa langsung dicegah dalam hitungan menit. Contohnya, sewaktu pemda akan membuat jalan sudah tersedia informasi berapa biaya rinci sesuai panjang dan kondisi jalan sampai dengan berapa luas tanah yang harus dibebaskan.

Contoh kedua, sewaktu pemda mengusulkan untuk membangun SD, sistem akan memberitahukan apakah usulan tersebut layak atau tidak melihat jumlah usia anak yang tersedia dan akses transportasi yang ada. Mungkin saja, intervensi yang bisa dilakukan hanya membeli bis sekolah ketimbang bangun sekolah baru yang pasti jauh lebih murah.

Data-data kemiskinan (poverty assessment) dan IPM/HDI bisa menjadi cross cutting data untuk mendukung kedua mekanisme perencanaan di atas. Lalu di mana keterlibatan masyarakat? Masyarakat menjadi responden dalam survei. Masyarakat bisa mengakses hasil survei dan bisa menyatakan keberatan bila hasilnya aneh. Kalau tidak percaya sama pemerintah, bisa dibikin Komisi Perencanaan yang bekerja ad hoc selama 2 bulan yang tugasnya mengawasi kredibilitas proses serta hasil perencanaan. Komisi perencanaan beranggotakan 50% pemerintah 50% perwakilan masyarakat.

Survei jauh lebih murah daripada partisipasi dalam musrenbang, terutama biaya-biaya pertemuan dan waktu. Metode survei bisa dilakukan jika pemerintah mau menginvestasikan sejumlah sumberdaya pendataan dan pelatihan. Tetapi, lagi-lagi sumberdaya tersebut masih jauh lebih murah ketimbang musrebang dan dampak yang dihasilkannya. Syarat yang lain, dan ini sulit, pemerintah bersedia untuk tidak korupsi.

Partisipasi Versus Survei 

Secara pragmatis, survei memang lebih murah. Tetapi dalam jangka panjang merugikan. Partisipasi bukan sekedar kehadiran sekelompok warga atau masyarakat dalam proses musrenbang saja. Dalam musrenbang warga didorong untuk terlibat mengambil keputusan. Musrenbang bukan hanya alat tetapi juga sebuah ruang yang menjamin warga dijamin memiliki hak dan kebebasan berpendapat serta terlibat dalam setiap pengambulan keputusan. Kelambatan dalam musrenbang terjadi karena didalamnya berlangsung proses penyadaran dan internalisasi hak-hak kerwargaan di dalam diri peserta musrenbang.

Menggunakan survei sebagai instrumen perencanaan pembangunan sama dengan mundur ke masa lalu. Survei jelas lebih cepat karena dikerjakan oleh orang yang dianggap ahli. Cara kerja begini sudah banyak dilakukan sejak jaman Soeharto. Jangan lupa bahwa di masa lalu cara ini sangat bias kekuasaan. Tokoh utama dalam survei adalah para ahli, sedangkan masyarakat menjadi penonton. Masyarakat hanya diperlakukan sebagai sumber informasi, sementara pengolahan informasi, penyajian dan pengambilan keputusan atas informasi tersebut dilakukan oleh para ahli yang umumnya orang luar. Proses lebih cepat dan hasilnya mungkin jauh lebih akurat. Tetapi survei diragukan bisa membuat masyarakat menjadi lebih berdaya, karena pengambilan keputusan berlangsung tanpa kehadiran pikiran-pikiran masyarakat.

Pendekatan partisipatif terkesan bertele-tele, membuang waktu, dan hasilnya belum tentu akurat. Namun dibalik proses ini terdapat proses-proses pemberdayaan, sekurang-kurangnya penyadaran warga atas hak-hak mereka terlibat dalam perencanaan kebijakan publik.

 Terima kasih untuk  : Dwi Joko Widiyanto

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on February 16, 2016 in Sosial, Tak Berkategori

 

Tags: , , ,

Taman Film Kota Bandung di Kolong Jembatan

Taman Filem Kota Bandung Kolong Jembatan Pasupati yang sebelumnya dikenal sebagai kawasan kumuh, sekarang terlihat “hegar” karena Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (Kang Emil) bersama Komunitas Film Bandung menyulap kolong Jembatan Pasupati menjadi taman untuk menonton film gratis bagi warga Bandung dan para wisatawan. Taman itu disebut Taman Filem.  Dengan dibuatnya taman itu maka Kota Bandung, kembali memiliki taman tematik, yakni Taman Film. Uniknya, hanya dengan bukti foto telah memungut sampah, kita bisa menonton gratis sepuasnya di Taman Film ini. Taman Film dibuat seperti bioskop outdoor dengan penataan mirip persawahan berwarna serba hijau.

Para penonton akan dimanjakan dengan layar teknologi megatron/videotron berukuran raksasa 4×8 meter berkualitas gambar High Definition (HD) yang terpampang megah di taman tersebut.  Kualitas suaranya  standar bioskop yang didukung daya listrik 33.000 watt. Sungguh luar biasa !.  Taman ini memiliki luas 1.300 meter persegi dan berkapasitas 500 orang penonton. Selain itu para pengunjung tak perlu khawatir duduk lesehan saat menonton film, karena alas duduk dan pelatarannya berupa rumput sintetis yang bersih dan nyaman. Tentu saja ketika menonton sebaiknya tidak merokok agar semua fasilitas tersebut terpelihara kenyamanannya.

Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on September 17, 2014 in Sosial

 

Tags: , , , , ,

Bandung Technopolis – Silicon Valley van Indonesia

Bandung - TeknopolisRidwan Kamil (Kang Emil) yang saat ini menjabat Walikota Bandung tidak pernah berhenti me luncurkan gagasan spektakular untuk memajukan Kota Bandung yang dipimpinnya dengan visi BANDUNG JUARA. Setelah meluncurkan ide Taman bermain disetiap RW, Bandung Tour On Bus (Bandros), Biopori, sekarang meluncurkan gagasan Bandung Teknopolis yaitu gagasan yang akan menjadikan Kota Bandung tempat hidup, bekerja, belajar dan bermain berbasis ICT Global. Walaupun terkesan “inferiority complex syndrome” ke depan Kota Bandung selain julukan Parisj Van Java juga akan memperoleh julukan Silicon Valleynya Indonesia. Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on August 16, 2014 in Sosial

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

Karaoke Mudah, Murah dan Praktis ketika Mudik

karafun PlayerHampir semua orang punya hasrat untuk bernyanyi dan biasanya diekpresikan dengan bersenandung mengikuti syair lagu yang disukainya. Namun senandung pelan  akan lebih asik jika kita mengeksperikan kesukaan pada lagu itu dengan bernyanyi tanpa terganggu oleh vocal penyanyi aslinya dan dipandu dengan lirik lagu tersebut. lagu berformat midi  adalah alternative berkaraoke dengan menggunakan computer jinjing (netbook/laptop) tanpa memerlukan memori file yang berat seperti file video clip. Bahkan jika kita berhasrat melatih kemampuan piano/organ dengan player van basco bisa menguji kemampuan permainan piano kita. Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on July 22, 2014 in Sosial, Tips & Trick

 

Tags: , , , ,

Bandung Creative City : Bandung Tour on Bus – BANDROS

Bandros 3Kota Bandung akan mempunyai produk kreatifitas baru yaitu Bandros namun ini bukan sejenis makanan khas Bandung tapi Bus wisata.  Bus wisata tingkat itu diberi nama Bandung Tour on Bus, disingkat Bandros. Bus bertingkat berdesign menarik seperti trem (transportasi rel  beberapa kota di eropa) ini adalah sumbangan dari Corporate Social Responsibility sebuah perusahaan telekomunikasi. Setiap wisatawan yang datang ke Kota Kembang dapat menikmati Bandros secara gratis. Bandros memiliki dua lantai, tapi tidak memiliki atap di lantai duanya. Tanpa atap di lantai dua agar bia leluasa melihat sekeliling ketika bis melaju pelan.

Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by on July 12, 2014 in Sosial

 

Tags: , , , , , , ,

Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi

Bagi pemerintah daerah, agenda pemberantasan korupsi merupakan isu yang sentral. Seiring dengan dilaksanakannya agenda desentralisasi, maka ada kewenangan yang substansial bagi pemerintah daerah untuk menyelenggarakan urusan tertentu. Kewenangan ini jika tidak didukung oleh komitmen yang kuat justru akan menimbulkan “otonomi korupsi”, sebuah fenomena yang hari-hari ini menjadi percakapan yang cukup seru. Banyak kasus korupsi diungkap yang ternyata melibatkan elit birokrasi lokal seperti DPRD dan Kepala Daerah (Bupati/Walikota/Gubernur).  Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on April 16, 2012 in Pendidikan, Sosial

 

Tags: , , ,

Catatan pinggir : Konflik status lahan punclut

Kawasan Punclut di Bandung Utara hingga saat ini masih menyisakan konflik kepentingan antara masyarakat pemerintah dan pengembang.  Berikut kilas catatan tracking (penulusuran) yang pernah saya lakukan bersama teman-teman dari Lembaga Advokasi Kerakyatan (LAK), Pusat Pengembangan Informasi Publik (P2IP) terhadap berbagai kebijakan yang pernah dikeluarkan oleh pemerintah terkait dengan status punclut.  Read the rest of this entry »

 
3 Comments

Posted by on February 6, 2012 in Sosial

 

Tags: , , , , , , , , , ,