RSS

Author Archives: Krisdinar

About Krisdinar

Praktisi dan pengguna alternatif curahan ekpresi dan informasi

PARTISIPASI dan MUSRENBANG

Menimbang Kembali Metode Musrenbang

Kata PARTISIPASI  mungkin sudah menjadibinangkit-h-19.jpg semacam mantra. Praktisi pembangunan masyarakat di Indonesia biasa merapalnya tiga kali sehari. Konon, malahan ada yang menjadikan partisipasi sebagai “agama”. Mereka yakin benar jimat yang satu ini ampuh untuk membuka kultur bisu masyarakat dan menembus barikade struktur kekuasaan yang menindas. Dulu, mantra ini memang pernah begitu ditakuti, keramat, dan dianggap berbahaya. Hanya sedikit kalangan yang menguasai mantra ini, itupun dilakukan sambil sembunyi-sembunyi. Salah satu diantara segelintir kalangan itu adalah LSM.

Tetapi sekarang mantra ini bisa dirapal siapa saja dan di mana saja. Meminjam istilah George Ritzer dalam The McDonaldization of Society: An Investigation into The Changing Character of Contemporary Social Life (1993) partisipasi sudah mirip Mc Donald. Partisipasi layaknya fast food, dijual massal, instan, dan menjadi bagian dari gaya hidup. Para aktivis biasanya merasa makin keren dan modis jika memakai atribut partisipasi. Tetapi ini juga yang menjadi soal. Barangkali karena bisa didapatkan dengan cepat, mantra itu seperti kehilangan nilai keramatnya sekarang. Seperti juga hidangan cepat saji ala Mc Donald, partisipasi makin berlemak dan berkolesterol tinggi. Tidak lagi menyehatkan, mengalami banyak degradasi, dan penyusutan makna di sana sini. Partisipasi yang berlangsung secara massal punya peluang untuk tergelincir menjadi mobilisasi.

Itulah kira-kira yang sedang dikeluhkan para pendekar otonomi desa dan Musrenbang. Perjuangan panjang melakukan advokasi agar partisipasi diadopsi dalam mekanisme perencanaan dan pembangunan cukup sukses. Kata partisipasi menghiasi peraturan perundang-undangan yang mengatur proses perencanaan dan pembangunan.

Masyarakat Bukan Relawan BAPPEDA

Tetapi mereka gundah karena dalam praktek partisipasi tidak bisa dikerjakan semudah membalik telapak tangan. Proses partisipasi dalam Musrenbang dirasakan terlalu lama, dengan hasil yang tidak selalu menyentuh hajat hidup masyarakat desa. Berikut adalah daftar lengkap kegundahan mereka. :

  1. Mengetahui siapa pemenang Pilkada saja hanya perlu waktu 4 jam, mengapa mengetahui keinginan publik atas nama partisipasi dibutuhkan waktu hampir setahun?
  2. Masyarakat tidak dibayar, tapi BAPPEDA digaji. Buat apa masyarakat ikut Musrenbang, capek-capek menjadi relawan BAPPEDA, lebih baik kerja cari duit. Apalagi yang datang pada Musrenbang orangnya itu-itu juga.
  3. Musrenbang cuma menjadi media bagi pemerintah desa untuk berdialog dengan dirinya sendiri. Hasilnya hampir tidak pernah dirujuk dalam rencana daerah.
  4. Perencanaan partisipatif dalam Musrenbang tidak sanggup memulihkan hak-hak rakyat. Partisipasi hanya menjadi alat untuk menggugurkan kewajiban pemerintah. Partisipasi tidak fun, membosankan. Rembukan terus, kapan kerjanya?

Di tengah-tengah kegundahan itu, berkembang gagasan mengubah metode partisipasi dengan survei dan Geografic Information System (GIS) atau Sistem Informasi Geografis (SIG).

Perencanaan dalam proses Musrenbang dapat dibagi ke dalam 2 kategori: perencanaan pelayanan publik, dan perencanaan infrastruktur. Untuk perencanaan kategori pertama, bisa digunakan hasil survei kepuasan pelayanan dengan tolok ukur Standard Pelayanan Minimum. Survei ini sepenuhnya difasilitasi oleh Bappeda dan SKPD, bahkan kalau perlu pihak ketiga. Survei akan menghasilkan preferensi masyarakat terhadap suatu jenis pelayanan plus tingkat kepuasan mereka atas pelayanan yang telah diberikan.

GIS digunakan untuk perencanaan infrastruktur. Memang investasi GIS mahal, tapi jauh lebih murah ketimbang dampak yang dihasilkan dari ketidakakuratan dan ketidakefisienan perencanaan.

Musrenbang Pakai Survei dan GIS?

Hasil ujicoba LOGICA dia Aceh konon cukup menggembirakan. Dengan kedua instrumen ini korupsi di pemerintahan yang sering terjadi sewaktu mark up dan mark down bisa langsung dicegah dalam hitungan menit. Contohnya, sewaktu pemda akan membuat jalan sudah tersedia informasi berapa biaya rinci sesuai panjang dan kondisi jalan sampai dengan berapa luas tanah yang harus dibebaskan.

Contoh kedua, sewaktu pemda mengusulkan untuk membangun SD, sistem akan memberitahukan apakah usulan tersebut layak atau tidak melihat jumlah usia anak yang tersedia dan akses transportasi yang ada. Mungkin saja, intervensi yang bisa dilakukan hanya membeli bis sekolah ketimbang bangun sekolah baru yang pasti jauh lebih murah.

Data-data kemiskinan (poverty assessment) dan IPM/HDI bisa menjadi cross cutting data untuk mendukung kedua mekanisme perencanaan di atas. Lalu di mana keterlibatan masyarakat? Masyarakat menjadi responden dalam survei. Masyarakat bisa mengakses hasil survei dan bisa menyatakan keberatan bila hasilnya aneh. Kalau tidak percaya sama pemerintah, bisa dibikin Komisi Perencanaan yang bekerja ad hoc selama 2 bulan yang tugasnya mengawasi kredibilitas proses serta hasil perencanaan. Komisi perencanaan beranggotakan 50% pemerintah 50% perwakilan masyarakat.

Survei jauh lebih murah daripada partisipasi dalam musrenbang, terutama biaya-biaya pertemuan dan waktu. Metode survei bisa dilakukan jika pemerintah mau menginvestasikan sejumlah sumberdaya pendataan dan pelatihan. Tetapi, lagi-lagi sumberdaya tersebut masih jauh lebih murah ketimbang musrebang dan dampak yang dihasilkannya. Syarat yang lain, dan ini sulit, pemerintah bersedia untuk tidak korupsi.

Partisipasi Versus Survei 

Secara pragmatis, survei memang lebih murah. Tetapi dalam jangka panjang merugikan. Partisipasi bukan sekedar kehadiran sekelompok warga atau masyarakat dalam proses musrenbang saja. Dalam musrenbang warga didorong untuk terlibat mengambil keputusan. Musrenbang bukan hanya alat tetapi juga sebuah ruang yang menjamin warga dijamin memiliki hak dan kebebasan berpendapat serta terlibat dalam setiap pengambulan keputusan. Kelambatan dalam musrenbang terjadi karena didalamnya berlangsung proses penyadaran dan internalisasi hak-hak kerwargaan di dalam diri peserta musrenbang.

Menggunakan survei sebagai instrumen perencanaan pembangunan sama dengan mundur ke masa lalu. Survei jelas lebih cepat karena dikerjakan oleh orang yang dianggap ahli. Cara kerja begini sudah banyak dilakukan sejak jaman Soeharto. Jangan lupa bahwa di masa lalu cara ini sangat bias kekuasaan. Tokoh utama dalam survei adalah para ahli, sedangkan masyarakat menjadi penonton. Masyarakat hanya diperlakukan sebagai sumber informasi, sementara pengolahan informasi, penyajian dan pengambilan keputusan atas informasi tersebut dilakukan oleh para ahli yang umumnya orang luar. Proses lebih cepat dan hasilnya mungkin jauh lebih akurat. Tetapi survei diragukan bisa membuat masyarakat menjadi lebih berdaya, karena pengambilan keputusan berlangsung tanpa kehadiran pikiran-pikiran masyarakat.

Pendekatan partisipatif terkesan bertele-tele, membuang waktu, dan hasilnya belum tentu akurat. Namun dibalik proses ini terdapat proses-proses pemberdayaan, sekurang-kurangnya penyadaran warga atas hak-hak mereka terlibat dalam perencanaan kebijakan publik.

 Terima kasih untuk  : Dwi Joko Widiyanto

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on February 16, 2016 in Sosial, Tak Berkategori

 

Tags: , , ,

Jangan sepelekan kekuatan fokus

 

DornaGuru Dorna sedang melatih para Pandawa dan para Kurawa memanah. Lima orang pandawa dan sembilah puluh sembilan kurawa berbaris memegang busur dan anak panah. sasaran latihan adalah sebuah burung kayu yang digantung di atas pohon. Dursasana mendapat giliran pertama. Sebelum ia melepaskan anak panahnya, Dorna bertanya, “Apa yang kau lihat Raden?” maka Dursasana pun menyahut, “Hamba melihat burung goreng yang lezat siap disantap Guru.” Lalu Dorna pun menjawab, “ Jangan lepaskan panahmu, turunkan busurmu!” tanpa bertanya, Dursasana pun mengurungkan niatnya untuk melepas anak panah dan menurunkan busurnya. Bima mendapat giliran berikutnya. Dengan otot-ototnya yang kuat, Bima merentangkan busurnya dan menarik anak panah yang siapa dilesatkan. Dorna kembali bertanya “ Apa yang kau lihat Raden?” segera Bima menjawab dengan lantang, “ Hamba melihat sebuah burung kayu tergantung di atas pohon Guru.” lalu Dorna pun memberi perintah, “ Jangan lepaskan panahmu, turunkan busurmu!” berbeda dengan Dursasana, Bima bertanya “ Mengapa Guru?” Dorna segera menjawab, “Anak panahmu tidak akan mengenai sasaran.” Bima pun menuruti perintah gurunya meskipun ia tampak kecewa. Arjuna mendapat giliran berikutnya. Dengan sorot matanya yang tajam, ia merentangkan busur dan menarik anak panah, siap untuk dilesatkan. Dorna kembali bertanya, “ Apa yang kau lihat Raden?” Arjuna pun menjawab dengan tenang.“ Hamba melihat anak panah hamba ini menancap tepat di leher burung kayu itu Guru.” Lalu Dorna berteriak nyaring, “ Lepaskan anak panahmu Raden!” segera Arjuna melepaskan anak panahnya. Diiringi desingan yang menderu, anak panah Arjuna itu pun melesat dengan kencang menuju sasaran dan akhirnya menancap tepat di leher burung kayu yang menjadi sasaran tersebut. Para pandawa yang lain dan para kurawa pun tercengang.

Arjuna fokus 2Mengapa Dorna melarang Dursasana dan Bima melepas anak panahnya sedangkan ia memperbolehkan Arjuna melepaskan anak panahnya? Apakah Arjuna adalah murid kesayangan Dorna? Bukan! Dorna adalah seorang guru yang baik. Ia tahu mana yang benar dan yang salah untuk anak didiknya. Meskipun Dorna sangat menyayangi Arjuna, Dorna tetap bersikap profesional dalam menjalankan tugasnya. Dorna melarang Dursasana dan Bima untuk melepas anak panahnya karena Dorna tahu bahwa mereka belum belajar dengan baik. Hal ini tercermin dari jawaban mereka. Sebaliknya, Dorna memerintahkan Arjuna melepas anak panahnya, karena Arjuna telah memenuhi semua persyaratan yang dibutuhkan untuk melepas anak panah tersebut. Hal ini terbukti tidak saja dari jawabannya, tetapi juga anak panah Arjuna memang benar-benar mengenai leher burung kayu tersebut. Apakah syarat yang dibutuhkan oleh seorang ksatria sebelum ia melepaskan anak panahnya? Jawabannya adalah: fokus. Untuk urusan memanah, Arjuna memiliki fokus sedangkan Dursasana dan Bima tidak.

Fokus adalah kemampuan untuk memusatkan semua energi yang dimiliki kepada suatu sasaran tertentu dan mempertahankannya hingga akhirnya sasaran tersebut tercapai. Kunci keberhasilan dari fokus bukan terletak pada seberapa besar kekuatan yang dimiliki tetapi seberapa terpusat dan konsisten kekuatan tersebut. Bima dan Dursasana jauh lebih besar dan kuat dibandingkan Arjuna, tapi mereka gagal memusatkan kekuatannya secara konsisten untuk membidik burung kayu itu. Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak ilustrasi berikut ini. Pada pukul sembilan pagi, saat matahari bersinar tajam, Anda meletakkan selembar kertas di bawah sebuah surya kanca (kaca pembesar). Segera surya kanca tersefokus 2but mengumpulkan sinar matahari dan membakar kertas tersebut beberapa detik kemudian. Bandingkan bila sekarang Anda menggunakan dua buah surya kanca secara bergantian. Setiap detik Anda menggantikan surya kanca tersebut secara bergiliran satu dengan yang lain. Apa yang terjadi dengan kertas tersebut? Setelah berjam-jam, kertas tersebut tetap utuh, tidak terbakar.

Mengapa dua surya kanca yang diletakkan secara bergantian tidak bisa menciptakan fokus. Terkadang, dalam suatu organisasi atau perusahaan kita tergoda untuk menambah lebih banyak orang untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Namun kita lupa bahwa terlalu banyak orang akan menciptakan pengalihan fokus. Orang-orang yang tidak bisa berkontribusi akhirnya mulai mengobrol dan mengganggu orang-orang yang sesungguhnya sedang bekerja. Akhirnya, pekerjaan justru lebih lama terselesaikan bahkan bisa jadi terbengkalai.

Kembali ke contoh surya kanca tadi, kondisi sebaliknya bisa juga terjadi. Anda menggunakan satu buah surya kanca tapi sekarang Anda memiliki dua kertas yang hendak dibakar. Anda meletakkan surya kanca tersebut secara bergantian di atas kedua kertas tadi masing-masing selama satu detik. Hasilnya? Setelah mencoba berjam-jam, tidak ada satu pun kertas yang terbakar. Tentu Anda bisa membakar kedua kertas tersebut seandainya masing-masing diletakkan di bawah surya kanca cukup lama sampai terbakar. Dalam prakteknya, Anda mungkin memiliki terlalu banyak tujuan (analogi dari kertas) yang hendak dicapai pada satu periode tertentu. Anda kemudian mengalokasikan sumber daya anda secara bergantian untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Hasilnya, setelah mencoba cukup lama, tidak ada satu pun tujuan yang bisa tercapai. Padahal bila Anda bisa memfokuskan alokasi sumber daya anda pada tujuan – tujuan tersebut satu persatu, besar kemungkinan Anda bisa mencapainya. Hal yang perlu Anda ingat adalah bila diarahkan dengan benar, fokus bisa menghasilkan kekuatan yang maha dahsyat. Itulah sebabnya sinar laser yang merupakan hasil kumpulan berbagai spektrum cahaya bisa meledakkan sebuah batu karang atau membelah baja yang keras. Mengapa fokus bisa mengoptimalkan dan bahkan melipatgandakan energi yang kita miliki? Berikut ini beberapa penjelasan yang saya dapatkan.

kerjaan fokusDengan berusaha untuk fokus, Anda akan bisa terbebas dari faktor-faktor pengganggu yang bisa menyerap energi Anda untuk hal-hal yang tidak perlu. Salah seorang pengusaha terkenal suatu ketika bercerita. Selama ini ia merasa sudah sibuk setiap hari mengerjakan pekerjaannya. Namun setiap minggu tidak pernah selesai dan malah bertumpuk. Suatu ketika ia mecoba ide baru. Ia masuk ke ruang kerjanya, menutup pintu dan jendela rapat-rapat, mematikan hand-phone dan televisi, kemudian mulai bekerja. Ajaib! Pekerjaannya bisa diselesaikan hanya dalam waktu beberapa jam saja. Padahal, selama ini waktu satu minggu tidak pernah cukup untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Itulah kekuatan fokus. Fokus membantu kita untuk menjaga energi yang kita miliki tidak terbuang percuma sehingga dapat digunakan secara maksimal untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pengusaha tadi, selama ini tidak pernah bisa memusatkan energinya karena konsentrasinya selalu teralihkan. Entah oleh suara televisi, dering telepon, tamu yang tiba-tiba datang, dan lain-lain. Tetapi, ketika ia memutuskan untuk mengunci diri di ruang kerjanya, maka seluruh energi yang dimilikinya bisa diarahkan untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Fokus juga membantu kita untuk mempertahankan besaran dan arah dari energi yang kita keluarkan secara konsisten. Untuk hal ini, saya memiliki sebuah ilustrasi lain yang menarik. Satu tanki yang penuh terisi air disemburkan dengan menggunakan selang kepada sebuah batu yang besar. Segera batu ini menjadi goyang karena kekuatan air tersebut. Namun setelah beberapa saat, air dalam tanki tersebut habis. Lalu apa yang terjadi dengan batu tersebut? Tentu saja batu tersebut menjadi basah dan sempat sedikit tergoyangkan tapi setelah itu, batu tersebut kembali seperti sediakala. Bandingkan sekarang bila tanki air tersebut diletakkan diatas batu yang sama. Bedanya, sekarang tanki tersebut dilubangi sebesar lubang jarum. Air perlahan-lahan menetes tepat di atas batu tersebut. Mungkin butuh waktu berbulan-bulan sampai air tersebut habis. Namun apa yang terjadi dengan batu tersebut? Benar, batu itu berlubang cukup dalam. Tanpa fokus, kita akan lebih mudah kehabisan energi seperti air yang disemprotkan dengan menggunakan selang. Tetapi dengan fokus, kita bisa lebih mengatur sumber daya yang kita miliki dan menggunakannya dengan terarah dan hemat sehingga, seperti air yang menetes tadi, kita bisa melubangi batu yang besar sekalipun.

suksesKekuatan lainnya dari fokus adalah membantu kita untuk memiliki keteguhan hati atau persistensi. Untuk urusan keteguhan hati ini, marilah kita simak kembali kisah Bob Willen, peserta lomba lari marathon yang diadakan di New York 1986. Bob adalah seorang veteran perang yang kehilangan sepasang kakinya. Ia menggunakan kedua tangannya untuk menempuh jarak sejauh 42 kilo meter tersebut. Setelah berjuang lebih dari empat hari, Bob benar-benar sudah hampir pingsan. Tangannya berlumuran darah dan keletihan benar-benar terpancar dari wajahnya. Namun Bob akhirnya mencapai garis finish. Segera saja ia diwawancarai oleh para wartawan dan reporter. Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah apa yang menyebabkan Bob bisa bertahan dan akhirnya mencapai garis finish. Bob menjawab “Sejak perlombaan ini dimulai, pandangan mata saya selalu tertuju ke garis finish.” Itulah kekuatan dari fokus. Fokus Bob kepada garis finish membantu ia untuk terus bertahan dan akhirnya bisa menyelesaikan lomba lari marathon tersebut.

Apakah Anda sudah mengerahkan semua kemampuan anda namun masalah-masalah anda tidak kunjung beres dan malah bertambah? Ataukah Anda sedang berusaha untuk mencapai sesuatu namun setelah mencobanya berkali-kali, Anda belum juga berhasil mencapainya? Saran praktis saya, singkirkan semua pengganggu, pusatkan usaha Anda, dan mulailah untuk fokus. Dengan tatapan mata yang tajam seperti Arjuna, Anda akan bisa melihat tujuan Anda dengan jelas seperti anak panah yang menancap di leher burung kayu. Selamat mencoba !

Sumber : JEMY V. CONFIDO di Majalah LIONMAG, edisi April 2014, hal 20, 22

 
Leave a comment

Posted by on September 27, 2014 in Pendidikan

 

Tags: , , , ,

Taman Film Kota Bandung di Kolong Jembatan

Taman Filem Kota Bandung Kolong Jembatan Pasupati yang sebelumnya dikenal sebagai kawasan kumuh, sekarang terlihat “hegar” karena Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (Kang Emil) bersama Komunitas Film Bandung menyulap kolong Jembatan Pasupati menjadi taman untuk menonton film gratis bagi warga Bandung dan para wisatawan. Taman itu disebut Taman Filem.  Dengan dibuatnya taman itu maka Kota Bandung, kembali memiliki taman tematik, yakni Taman Film. Uniknya, hanya dengan bukti foto telah memungut sampah, kita bisa menonton gratis sepuasnya di Taman Film ini. Taman Film dibuat seperti bioskop outdoor dengan penataan mirip persawahan berwarna serba hijau.

Para penonton akan dimanjakan dengan layar teknologi megatron/videotron berukuran raksasa 4×8 meter berkualitas gambar High Definition (HD) yang terpampang megah di taman tersebut.  Kualitas suaranya  standar bioskop yang didukung daya listrik 33.000 watt. Sungguh luar biasa !.  Taman ini memiliki luas 1.300 meter persegi dan berkapasitas 500 orang penonton. Selain itu para pengunjung tak perlu khawatir duduk lesehan saat menonton film, karena alas duduk dan pelatarannya berupa rumput sintetis yang bersih dan nyaman. Tentu saja ketika menonton sebaiknya tidak merokok agar semua fasilitas tersebut terpelihara kenyamanannya.

Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on September 17, 2014 in Sosial

 

Tags: , , , , ,

Bandung Technopolis – Silicon Valley van Indonesia

Bandung - TeknopolisRidwan Kamil (Kang Emil) yang saat ini menjabat Walikota Bandung tidak pernah berhenti me luncurkan gagasan spektakular untuk memajukan Kota Bandung yang dipimpinnya dengan visi BANDUNG JUARA. Setelah meluncurkan ide Taman bermain disetiap RW, Bandung Tour On Bus (Bandros), Biopori, sekarang meluncurkan gagasan Bandung Teknopolis yaitu gagasan yang akan menjadikan Kota Bandung tempat hidup, bekerja, belajar dan bermain berbasis ICT Global. Walaupun terkesan “inferiority complex syndrome” ke depan Kota Bandung selain julukan Parisj Van Java juga akan memperoleh julukan Silicon Valleynya Indonesia. Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on August 16, 2014 in Sosial

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

Menampilkan Lirik lagu Favorit di Monitor Komputer

MinilirycsMenyanyikan lagu favorit Anda adalah salah satu kesenangan kecil dalam hidup, terutama ketika tidak ada orang di sekitar Anda. Tapi Anda jelas perlu tahu lirik lagu yang akan Anda coba nyanyikan. Untungnya, ini bisa ditemukan dengan mudah dengan MiniLyrics.

MiniLyrics diluncurkan bersamaan dengan hampir semua pemutar (player) musik,  termasuk iTunes, Winamp dan Windows Media Player. VLC dan lain-lain yang secara otomatis akan mencari lirik, berdasarkan informasi yang diberikan oleh label file lagu.  Oleh sebab itu pastikan judul dan dan penyanyinya  ditulis dengan benar Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on August 13, 2014 in Tips & Trick

 

Tags: , ,

Karaoke Mudah, Murah dan Praktis ketika Mudik

karafun PlayerHampir semua orang punya hasrat untuk bernyanyi dan biasanya diekpresikan dengan bersenandung mengikuti syair lagu yang disukainya. Namun senandung pelan  akan lebih asik jika kita mengeksperikan kesukaan pada lagu itu dengan bernyanyi tanpa terganggu oleh vocal penyanyi aslinya dan dipandu dengan lirik lagu tersebut. lagu berformat midi  adalah alternative berkaraoke dengan menggunakan computer jinjing (netbook/laptop) tanpa memerlukan memori file yang berat seperti file video clip. Bahkan jika kita berhasrat melatih kemampuan piano/organ dengan player van basco bisa menguji kemampuan permainan piano kita. Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on July 22, 2014 in Sosial, Tips & Trick

 

Tags: , , , ,

Bandung Creative City : Bandung Tour on Bus – BANDROS

Bandros 3Kota Bandung akan mempunyai produk kreatifitas baru yaitu Bandros namun ini bukan sejenis makanan khas Bandung tapi Bus wisata.  Bus wisata tingkat itu diberi nama Bandung Tour on Bus, disingkat Bandros. Bus bertingkat berdesign menarik seperti trem (transportasi rel  beberapa kota di eropa) ini adalah sumbangan dari Corporate Social Responsibility sebuah perusahaan telekomunikasi. Setiap wisatawan yang datang ke Kota Kembang dapat menikmati Bandros secara gratis. Bandros memiliki dua lantai, tapi tidak memiliki atap di lantai duanya. Tanpa atap di lantai dua agar bia leluasa melihat sekeliling ketika bis melaju pelan.

Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by on July 12, 2014 in Sosial

 

Tags: , , , , , , ,