RSS

Nasib Transmigran…

24 Nov

Abah Dayum, dua tahun lalu bertekad untuk mendaftar menjadi transmigran, walaupun umurnya lebih dari 50 tahun. Padahal persyaratan menjadi transmigran adalah berumur tidak lebih dari 50 tahun.  Bah Dayum bisa lolos menjadi transmigran karena termasuk masyarakat yang sangat terkena dampak rencana proyek bendungan Jatigede Sumedang. Selain itu Bah Dayum mampu menunjukkan tekadnya menjadi transmigran kepada aparat Dinas Tenaga Kerja. 

Bagi Bah Dayum tidak ada pilihan lain selain menjadi transmigran, Dia tidak punya lahan yang digantirugi lahan pembangunan waduk Jatigede. sehingga tidak punya modal untuk berpindah profesi dari buruh tani menjadi pedagang. Selain itu keahliannya hanya tani bukan pedagang.  Banyak warga yang terkena dampak bendungan jatigede yang mempunyai alasan yang sama dengan Bah Dayum.

Abah Dayum bukan satu satunya keluarga yang bertekad untuk menjadi transmigran, karena dari kecamatan Darmaraja Kabupaten Sumedang terdapat lebih dari 75 KK yang mendaftar menjadi transmigran. Bah Dayum bersama 25 KK lainnya pada bulan September 2009 ditransmigrasikan ke Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Tebingjaya III Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi. Sedangkan lebih dari 50 KK lainnya disebar dibeberapa UPT dan kabupaten di Provinsi Jambi.

Walaupun perjalanan untuk menjacapai lokasi transmigrasi cukup jauh dari Ibukota Batanghari dan harus menyebrangi Sungai Batanghari dengan rakit, Bah Dayum sangat bersyukur karena setelah dua tahun berjuang menggarap lahan yang ternyata rawa sekarang sudah terlihat hasilnya. Kelapa sawit yang ditanamnya beberapa bulan lalu di lahan pekarangan dan dan Lahan Usahanya seluas satu hektar telah menunjukkan pertumbuhan yang baik. Ungkapan yang sama juga terucap oleh Asep Sugandi yang bersama-sama Bah Dayum berangkat dari Darmaraja Sumedang dua tahun lalu. Asep malah telah menikmati hasil panen tanaman coklatnya di lahan pekarangannya, walaupun hanya beberapa kilogram saja. Bagi Asep dan Bah Dayum pertumbuhan dan hasil panen tersebut telah menambah harapan bagi masa depannya dan akan tetap bertahan mengelola lahan transmigrasi ini.
“…Sayang pak kalau kami tinggalkan, karena untuk bisa menjadikan tanaman sawit dan coklat tumbuh seperti ini, kami harus berjuang keras. Ketika kami daang dua tahun lalu lahan ini tergenang air seperti halnya rawa. Kami semua bergotong royong membuat parit-parit supaya lahan menjadi kering dan dapat ditanami…” Ungkap Bah Dayum dan Asep.

Namun Perjuangan Bah Dayum dan asep bersama para Transmigran lainnya yang berasal dari Bandung dan daerah lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur masih belum selesai karena perjuangan mereka bukan hanya urusan teknis budidaya tapi perjuangan yang lebih berat untuk dihadapi. Lahan yang dijanjikan dua hektar sampai sekarang masih baru diterima satu hektar. Satu hektar lainnya hingga saat ini masih belum ada kepastiannya.

Nasib Bah Dayum dan Asep mungkin jauh lebih baik jika dibandingkan dengan Kang Nardi dan Kang Sukarya yang ditempatkan di UPT Gedong Karya Kecamatan Kumpeh Kabupaten Muarojambi. Walaupun ssama-sama berasal dari Sumedang namun hingga hampir lebih dari 2 tahun masih belum memperoleh lahan usaha kecuali lahan pekarangan yang hanya 0,25 ha. Sebanyak lebih dari 200 KK dan diantarannya 50 KK dari Sumedang dan Bandung tidak menentu nasibnya. Lahan yang dijanjikan ternyata dikliem sebagai milik masyarakat local dan perusahaan perkebunan Swasta. Para transmigran lebih memilih mengalah dan pasrah dibandingkan harus berkonflik dengan penduduk local. “…Asa dipiceun kadieu teh kang, nyeri hate ku Sumedang jeung Bandung …asa diteungteuinganan …” kata MangNardi, salah seorang transmigran asal Sumedang.

Sebenarnya para transmigran telah mengadukan nasib mereka kepada Kepala UPT, bahkan kepada Dinas Nakertrans Sumedang, namun hingga saat ini belum ada penyelesaiannya. Ketika saya konfirmasi ke Dinas Nakertrans Sumedang ternyata hanya bisa menjawab bahwa itu adalah kewenangan pemda Muaro Jambi, dan hanya menyatakan keprihatinannya terhadap nasib transmigran yang dikirimnya dari Sumedang.

Konflik dan sengketa lahan antara transmigran dan penduduk local ternyata bukan hanya terjadi di UPT Gedong Karya. Tetapi hampir diseluruh lokasi UPT yang kebetulan saya singgahi baik jambi maupun Sumatra Selatan. Para transmigran pada umumnya lebih memilih pasrah dari pada harus berkonflik dengan penduduk local. Tampaknya aspek pengelolaan dan perencanaan dari Pemda pengirim dan Pemda Penerima Transmigrasi masih perlu diperbaiki. Ketidakbecusan dalam pengelolaann transmigrasi berakibat fatal bagi nasib transmigran yang dikirimkan.

Banyak kisah tentang transmigrasi yang tak terungkap, kisah tentang perjuangan membangun diri dan keluarganya sekaligus menerobos keterbelakangkan pembangunan di kawasan hutan rawa adalah bagian dari para transmigran. banyak pula yang tidak tahan untuk berjuang dan memilih pulang kembali ke tempat asalnya di Pulau Jawa. Pantaslah jika menteri Nakertrans berkehendak jika suatu saat nanti para transmigran yang berhasil disemati predikat pahlawan pembangunan. Bagi transmigrans sebenarnya keinginannya sangat sederhana….berikan lahan yang dijanjikan seluas 2 ha agar para transmigran mempunyai kepastian garapan tanpa harus berkonflik dengan masyarakat lokal. Selanjutnya para transmigran membersihkan lahan rawa dan hutan untuk siap ditanami dan 3 atau 5 tahun lagi sudah memberikan konstribusi pertumbuhan ekonomi bagi kabupaten yang ditempatinya.

 
Leave a comment

Posted by on November 24, 2011 in Sosial

 

Tags: , ,

Jangan lupa tulis komentar....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: