RSS

Punclut Gersang Penuh Misteri

24 Feb

Punclut adalah sebuah sebutan untuk menamai sebuah bukit yang menjulang yang berada di kelurahan Ciumbuleuit, Kec. Cidadap, Kota Bandung. Punclut merupakan kawasan yang mempunyai bentang alam dengan topografi berbukit sampai bergunung, kelerengan rata-rata > 40%, berada pada ketinggian 850 – 1.000 m dpl. Punclut termasuk pada Kawasan Bandung Utara yang pemanfaatan ruangnya harus dikendalikan.

Istilah Punclut diperkirakan singkatan dari Puncak Ciumbuleuit karena memang letaknya di ujung Jalan Ciumbuleuit yang menanjak mulai dari Jl Cihampelas dan Jl Babakan Siliwangi Bandung .Kawasan punclut ini membentang dari ujung Jalan Ciumbeulit sampai ujung Jalan Dago (Jl. Juanda).  Istlah ini kemudian semakin populer setelah banyak orang “ngngeuh” atas potensi alamnya yang dapat dijadikan sebagai tempat untuk melihat kota Bandung dari kejauhan.  Selanjutnya semakin banyak diberitakan media massa ketika terjadi kontroversial atas berbagai kebijakan pemanfaatan ruang setelah beberapa pengembang “ngngeuh” juga untuk memanfaatkannya sebagai kawasan wisata, perumahan, hotel dan lain-lain.

Kalo kita jalan-jalan ke sana maka yang akan kita lihat sebenarnya pola penghijauan yang tidak tertata dengan baik, bahkan sebagian besar kawasan ini telah mengalami kegundulan lahan. Jika hujan, tanah menjadi licin dan lengket dan ketika musim kemarau terasa berpasir dan berdebu.  Oleh sebab itu banyak para pemerhati lingkungan menyebutkan kawasan ini termasuk pada lahan kritis yang harus segera dihijaukan. Jika kita kebetulan punya kesempatan waktu untuk jalan–jalan di hari minggu pagi, janganlah berharap untuk melihat hutan atau tanaman pertanian yang hijau, tapi berharaplah untuk bisa makan nasi merah khas sunda dan pemandangan kota Bandung dari kejauhan.

DiIbalik kepopulerannya,  punclut telah dan sedang mengalami  dinamika status tanah dan pemanfaatan ruangnya, bahkan banyak pihak menyebutkan sebagai misteri. Status lahan di Kawasan Punclut sebelum tahun 1961 adalah Tanah Negara eks-hak Erfpacht atau bekas lahan perkebunan teh pada jaman penjajahan Belanda.  Pada tahun 1961 Kepala Inspeksi Agraria Jabar mengalihkan tanah eks erfpacht tersebut menjadi hak milik kepada lebih dari 900 orang. Namun demikian, pemegang hak milik tersebut dengan berbagai pertimbangannya membiarkan masyarakat sekitar kawasan itu memanfaatkannya sebagai lahan garapan pertanian.

Pada tahun 1997 Menteri Agraria memutuskan untuk membatalkan/memcabut hak milik tanah tersebut menjadi milik negara kembali dengan alasan orang yang mempunyai hak atas tanah tersebut tidak memanfaatkannya untuk membuat rumah. Selanjutnya dinyatakan pula dalam keputusannya bahwa tanah/lahan tersebut akan dimanfaatkan oleh salah satu pengembang/developer untuk membangun kawasan wisata terpadu. Keputusun menteri ini kemudian didukung oleh Walikota Bandung pada tahun 2000 dengan mengeluarkan ijin lokasi yang kedua kalinya kepada developer tersebut atas rencananya membangunan kawasan wsata terpadu di kawasan punclut

Berbagai kebijakan yang dikeluarkan itulah punclut ini menjadi “membara” dan “misteri” karena kebijakan/keputusan Menteri Agraria dan walikota tersebut bertentangan dengan kebijakan lain yang juga dkeluarkan oleh Walikota  yang  mengarahkan kawasan punclut sebagai kawasan konservasi. Di era keterbukaan dan reformasi seperti sekarang ini, tentu saja banyak orang ingin mengungkap “misteri” ini.

Lahan Punclut saat ini, dikuasai haknya oleh lima pengembang/developer dan makelar tanah. Sedangkan masyarakat punclut hanya meminjam sementara sebelum diusir oleh pemiliknya haknya. Pengembang ini rencananya akan membangun hotel, perumahan, pusat olahraga, dan gedung pertunjukan bertaraf internasional. Seiring dengan banyaknya  pelanggaran pemanfaatan ruang  yang memicu “konflik” dan “misteri”  maka pada tahun 2005 Gubernur Jawa Barat, memberikan arahan penanganan kawasan punclut yang dtujukan kepada Walikota Bandung. Pokok arahan Gubernur tersebut antara lain adalah menghentikan untuk sementara aktifitas pembangunan fisik yang dilakukan  pengembang/developer.

Terlepas dari berbagai dnamika penguasaan lahan dan misteri yang menyelimutinya, kita saat masih dapat memanfaatkan kawasan punclut untuk arena jalan-jalan dan santai makan nasi merah dan memandang kota bandung yang indah dari kejauhan, sampai suatu saat developer membangun hotel berbintang sehingga kita baru dapat memandang Kota Bandung dari punclut jika mampu membayar 1 juta per hari .

 
Leave a comment

Posted by on February 24, 2010 in Sosial

 

Tags: , ,

Jangan lupa tulis komentar....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: