RSS

Catatan Pinggir Sertifikasi Guru

22 May

Minggu-minggu ini saya jadi terlibat begitu banyak dalam mencari informasi tentang sertifikasi guru. Bermula dari kesibukan permaisuri yang guru, begitu sibuk dan kelihatannya hampir frustasi mengumpulkan persyaratan dokumen portofolio sertifikasi guru. Dokumen yang harus dikumpulkannya terbagi menjadi sepuluh komponen, mulai dari bukti dokumen pengalaman mengajar sampai dengan dokumen tanda penghargaan selama menjalani profesi guru. Saya tidak ingin menceritakan tentang apa saja ke sepuluh komponen tersebut yang menurut logika sederhana dapat mengindikasikan guru yang professional. Begitu pula variabel-variabel dan indicator yang diukur , tidak perlu diperdebatkan, karena disusun oleh para ahli Depdiknas yang mempunyai kompetensi yang sangat memadai. Walaupun ada juga beberapa variable/indikator yang perlu dikritisi.

Saya sendiri juga pernah punya pengalaman yang sama mengumpulkan dokumen–dokumen itu untuk dapat dinyatakan sebagai pengajar, hanya saja komponennya Pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat dan penunjang yang idealnya diajukan 2 tahun sekali. Biasanya saya melepas dan tidak pernah ikut campur pada titian karir sang permaisuri . Hanya saja kali ini kesibukannya sudah menyangkut hidup orang banyak….anak-anak jadi banyak “disentaknya” dibandingkan dengan menanyakan sudah makan apa belum…! Bahkan yang bungsu malah dititipkan pada tempat penitipan. Wah kalau sudah begini mah saya harus turun tangan nich …!

Variabel dan indikator yang ditetapkan sempurna oleh Depdiknas tersebut pada “kondisi normal” bagi guru sangat sulit untuk dipenuhi agar bisa lulus dengan skor minimal 850. Saat ini, guru yang dapat mengajukan dan/atau diundang Dinas Pendidikan untuk disertifikasi minimal Sarjana S1 dengan pengalaman minimal 20 tahun. Sebenarnya tidak perlu harus sarjana dan berpengalaman lebih dari 20 tahun untuk dapat disertifikasi. Namun logika perhitungan matematis dari jumlah skor yang harus dikumpulkan tampaknya guru yang bukan sarjana dan berpengalaman akan menghadapi kesulitan untuk mengumpulkan skor minimal 850 untuk dapat lulus sertifikasi.

Apabila diasumsikan seorang guru adalah sarjana yang relevan dengan matapelajaran yang diajarkannya dan berpengalaman 20 tahun, maka sudah mampu memperoleh skor 150+160 = 310. Sisanya 850-310 = 540 harus dipenuhi oleh berbagai pengalaman kegiatan yang menunjang terhadap profesi guru. Pengalaman kegiatan tersebut antara lain pernah mengikuti Diklat, membimbing teman sejawat atau ekskul siswa, menulis buku, Penelitian Tindakan Kelas, seminar di forum ilmiah, menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), membuat media pembelajaran, menciptakan karya spektakuler baik seni maupun kependidikan dan banyak lagi pengalaman-pengalaman yang dapat menggenjot nilai skor agar mencapai 850 point. Skor diklat, seminar dan berbagai penghargaan sangat bergantung pada tingkat (nasional, internasional, local), relevansi dan jumlah jam diklat yang diikutinya. Semakin tinggi tingkat, relevansi dan jumlah jam maka semakin tinggi skor yang diperoleh.

Seluruh pengalaman aktivitas selama menjadi guru selama 20 tahun tersebut harus diungkapkan dalam sebuah dokumen yang disebut “portofolio”. Portofolio adalah semacam table isian yang menggambarkan sepuluh komponen profesionalisme guru. Tabel isiannya mudah dipahami karena dirancang sederhana. Namun yang sulit dipahami adalah bagaimana mengisinya jika hampir semua guru tidak mempunyai pengalaman aktivitas profesionalisme sebanyak itu seperti yang dimaksud dalam table, sementara harapan untuk dapat lulus sertifikasi begitu besar.

Disinilah kemudian muncul kesulitan untuk menghimpun skor. Bisa jadi kesulitan itu bukan hanya dialami sang primaisuri tapi hampir semua teman-teman guru lainnya. Selain karena kurang pengalaman dalam mengikuti seminar, diklat, serta aktivitas lain yang menggambarkan kreatifitas guru, juga karena bukti fisik dalam bentuk Sertifikat, SK, Surat Tugas dan lain-lain harus disertakan aslinya. Dalam hal ini selain fotocopy sertifikat yang dilegalisir oleh Kepala Sekolah atau kelembagaan penyelenggara juga harus disertakan dokumen aslinya. Bukan soal fotocopi atau aslinya, tapi spirit dan esensi dari ketentuan bahwa harus disertakan dokumen aslinya, membuat saya lebih yakin bahwa pada periode sertifikasi sebelumnya (tahun 2007) pernah terjadi hal-hal yang tidak terpuji yang dilakukan guru dan lembaga berkaitan dengan “bukti fisik dokumen portofolio”. Namun apapun latarbelakangnya, yang penting panitia sertifikasi sanggup bertanggungjawab penuh atas keselamatan dokumen asli yang diserahkan para guru.

Proses pengumpulan dokumen juga bukan hal yang mudah karena terkadang dokumen tersebut sudah tercecer, terselip, hilang, dipasantrenkan dan lain-lain. Jika terkumpul semua maka akan menjadi sebuah bundel portofolio setebal 15 Cm dan harus dibuat minimal rangkap dua. Saking beratnya mencapai skor minimum 850, saya memberikan apresiasi sangat tinggi kepada guru yang telah lulus sertifikasi. Artinya dengan kondisi yang serba terbatas, baik dana, waktu maupun konsentrasi, masih mampu melakukan aktivitas diluar proses belajar mengajar demi meningkatkan profesionalismenya sehingga mampu mengisi portofolio yang memenuhi syarat kelulusan.

Lantas bagaimana dengan proses sertifikasi sang permaisuri yang saya dukung untuk meningkatkan status profesionalismenya sebagai guru ? Saya dan permaisuri hanya bisa menyerahkan penilaian kepada asesor (penilai) yang ditunjuk Dinas Pendidikan. Dan yang paling penting interaksi antar anggota keluarga normal kembali !

 
5 Comments

Posted by on May 22, 2008 in Pendidikan

 

Tags: , ,

5 responses to “Catatan Pinggir Sertifikasi Guru

  1. Bespoke

    June 19, 2008 at 9:34 am

    Somehow i missed the point. Probably lost in translation🙂 Anyway … nice blog to visit.

    cheers, Bespoke.

    Reply :
    We hope to try and try again to be better blog
    and thanks for your support …

     
  2. Rafki RS

    June 3, 2008 at 6:42 am

    Guru adalah tiang utama dari maju-mundurnya bangsa ini di masa depan. Mudah-mudahan program sertifikasi ini bisa menjadikan guru semakin profesional dan berkualitas. Mudah-mudahan program sertifikasi ini tidak malahan membebani guru dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai pendidik.

    Reply :
    Dari hasil “ngobrol” dengan beberapa guru, dia menyatakan ingin diakui sebagai guru yang profesional, hanya permasalahannya untuk mejadi profesional tersebut syarat-syaratnya memerlukan waktu luang dan uang yang relatif besar untuk ukuran seorang guru.., misalnya ikut kegiatan penunjang seperti pelatihan, menciptakan media belajar, penelitian tindakan kelas dan lain-lain.

    Dilematisnya gaji dinaikkan dulu supaya mampu mengikuti berbagai kegiatan penunjang tadi atau ikut kegiatan penunjang dulu dengan uang yang terbatas dan kalau lulus sertifikasi baru kemudian naik gaji ??

     
  3. Yoyo

    June 3, 2008 at 6:22 am

    ya…mudah-mudahan saja niat baik pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan guru ini berhasil, tapi….saya pernah denger langsung dari seorang guru yang ikut sertifikasi, katanya : ‘susah bener prosesnya ?”

    Reply :
    Betul, sebab menjadi seorang yang profesional memang tidak diraih dengan mudah

     
  4. Yari NK

    June 1, 2008 at 1:28 am

    Mudah2an sertifikasi guru ini dapat menambah profesionalisme guru, bukan hanya semata2 untuk “mengamankan” kedudukan dan gajinya.

    Namun, perlu juga kita ketahui bahwa, secara informal kitapun harus siap menjadi guru yang tidak bersertifikat (dan sekaligus murid). Ya, sekecil apapun ilmu yang kita dapat harus kita sebarkan pada orang lain dan juga kita harus bisa menjadi murid untuk senantiasa belajar dan belajar terus untuk memperbaiki diri…..

    Reply :
    1. Ya mudah-mudahan kang…sebab secara konseptual sertifikasi akan menjadikan guru lebih profesional..
    2. Saya setuju sebab kata orang bijak ilmu yang disumbangkan pada orang lain, justru akan menambah pemahaman kita terhadap ilmu yang disumbangkan tersebut bahkan bertambah ilmunya

     
  5. Ersis Warmansyah Abbas

    May 24, 2008 at 12:29 am

    Ambil saja berkas naik pangkat, atau persiapan naik pangkat, selesai. Yang menyushkan itu kan yang direkayasa segala macam … Ngak usah susah-susah, soal adminstrasi saja kog. Mumpung pemerintah lagi lucu-lucunya he he

    Reply :
    Betul,…kita serahkan penilaian pada asesor,..easy going…! dengan apa adanya jauh lebih nyaman..

     

Jangan lupa tulis komentar....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: