RSS

Bangkit dengan Otak Kosong

17 May

Ironis memang, kata kebangkitan masih digunakan oleh sebuah bangsa yang telah merdeka lebih dari 60 tahun lalu. Kemerdekaan yang kita telah raih sejak tahun ‘45 dalam proses perjalanannya seperti tidak pernah dimaknai sebagai kesempatan untuk bangkit membangun bangsa yang mampu mensejajarkan diri dengan bangsa lain di dunia.

Sejarah bangsa Indonesia yang kita baca dan pelajari di sekolah memang selalu menggambarkan perjuangan berat untuk sekedar bisa hidup merdeka. Padahal kemerdekaan adalah hak segala bangsa yang tidak perlu harus dengan perjuangan sampai tetes darah yang pamungkas. Coba saja simak sejarah perjuangan para pahlawan bangsa sebelum dan sesudah tahun 1945 hingga saat ini, jarang atau tidak pernah ada pahlawan yang berjuang untuk menemukan formula budaya atau benda unik agar hidup bangsa Indonesia dan dunia jauh lebih berkualitas, seperti Thomas Alfa Edison, Isaac Newton, Adam Smith, Marconi, Graham Bel atau Otto. Malahan bangsa serumpunpun mampu menghina bangsa kita dengan mencuri Pulau dan hasil seni budaya identitas bangsa Indonesia yang sudah berabad lamanya kita miliki seperti Pulau Ligitan, batik, reog ponorogo……..Lengkap sudah keterhinaan bangsa ini.

Tanpa bermaksud menafikkan jasa para pejuang seperti Bung Karno, Wahidin, Ki Hajar Dewantoro, HOS Cokroaminoto, atau mahasiswa angkatan 66, angkatan 78, Gie, Harry Rusli, Munir atau Ratna Sarumpaet, perjuangan mereka hanya sebatas agar bangsa Indonesia memperoleh haknya yang azasi sebagai manusia. Secara kontekstual, tentunya Kiprah para pejuang kita tersebut masih dapat dipahami apabila dikaitkan dengan teori hirarki kebutuhan manusia menurut Maslow bahwa kebutuhan manusia mulai dari terendah yaitu kebutuhan fisik, rasa aman, harga diri, prestasi sampai akhirnya mampu untuk mengaktualisasikan diri. Artinya, selama ini bangsa Indonesia baru melakukan perjuangan untuk sekedar dapat bertahan hidup, belum pada tahapan perjuangan untuk mempertahankan harga diri, apalagi prestasi dan aktualisasi diri yang dapat mensejajarkan dengan bangsa yang lain. Deklarasi Bandung, keanggotaan di UNO (PBB), atau aktivitas lainnya di keorganisasian Internasional tidak lebih hanya untuk memperoleh pengakuan diplomatis, politis atau “de jure” jika bangsa Indonesia mempunyai Negara yang “berdaulat dan merdeka”

Sejak hari kebangkitan tanggal 20 Mei 1908 yang bertepatan dengan berdirinya Organisasi Kejawen Boedi Oetomo sampai dengan 20 Mei 2008 sekarang, sudahkah kita membangun infrastruktur dan sosial-ekonomi sehingga kebutuhan fisik biologis, rasa aman terpenuhi ? dan dengan mantap kita nyatakan bahwa tanggal 20 Mei 2008 sekarang dijadikan sebagai tonggak sejarah baru untuk menetapkan hari kebangkitan ke II meningkatkan harga diri, prestasi dan aktualisasi diri bangsa ? atau masih harus berjuang lagi untuk sekedar bisa bertahan hidup memenuhi kebutuhan fisik saja dulu untuk seratus tahun ke depan ? Apabila jumlah kemiskinan dan eksesnya kita sepakati sebagai pendekatan untuk menjawab pertanyaan tersebut mari kita lihat realitanya.

Menurut data yang dilansir Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Republik Indonesia (www.tkpkri.org) yang juga dipublikasikan oleh PKPU Magazine edisi Juni 2007, bahwa untuk menanggulangi kemiskinan Pemerintah RI pada tahun 2005 harus mengeluarkan dana Rp 23 Trilyun dan terus melonjak mencapai Rp 42 trilyun di tahun 2006. Malah di tahun 2007 lalu sudah meningkat menjadi Rp 51 trilyun dan rencananya di Tahun 2008 mencapai Rp 65 trilyun. Sejak tahun 2007, dana dana tersebut dijabarkan ke dalam 12 Program Pengentasan Kemiskinan antara lain Bantuan Tunai Langsung (BLT), Beras untuk Rakyat Miskin (Raskin), Bantuan Pendidikan, Bantuan Kesehatan dan pemberian kredit mikro. Enam program lainnya adalah bantuan untuk petani, nelayan, peningkatan gaji PNS, peningkatan kesejahteraan buruh, bantuan untuk penyandang cacat, serta pelayanan publik yang cepat dan murah.

Namun demikian dana yang dikucurkan sekitar 28 % dari total APBN tersebut , menurut Badan Pusat Statistik masih menyisakan jumlah kemiskinan mencapai 63,2 juta orang (28,7 % dari total penduduk) pada tahun 2007. Bahkan beberapa kalangan memperkirakan melebihi 70 juta orang. Dampak dari kemiskinan itu terlihat dari jumlah “balita” yang menderita gizi buruk yang memperlihatkan kecenderungan meningkat dari 1,67 juta orang di tahun 2005 menjadi 2,3 juta orang di tahun 2007.

Apabila melihat kondisi perekonomian sepanjang tahun 2007 lalu dan prediksi tahun 2008 maka jumlah balita yang mengalami gizi buruk dan busung lapar akan melonjak jauh melebihi jumlah yang terjadi di tahun 2006 dan 2007. Data statistik memang hanyalah sederetan angka yang dapat saja diperdebatkan, namun kita dapat rasakan, dengar dan lihat perilaku orang yang mengindikasikan kemiskinan dimanapun kita berada. Itulah realitas perjalanan kebangkitan bangsa Indonesia sejak 100 tahun yang lalu.

Seperti akibat yang ditimbulkan oleh penggunaan narkoba, hal yang paling mengerikan dari gizi buruk dan busung lapar, adalah “kematian generasi”. Walaupun dapat diselamatkan dari kematian tetapi mereka pasti hidup dengan otak yang kosong. Dalam kondisi dimana satu generasi otaknya kosong maka Kebangkitan ke II penuh dengan perjuangan bagaimana mengisi kembali otak kosong !

Selamat Hari Kebangkitan Nasional, Kita pasti bisa !! Seperti yang disampaikan Kang Deddy Mizwar dalam puisi berikut :

Puisi kebangkitan

Lihat Puisi Deddy Mizwar

-Gambar saya “pinjam” dari jcscindonesia.blogspot.com, dan pijarcommunity.blogspot.com.

-Saya ucapkan terimakasih .

 
3 Comments

Posted by on May 17, 2008 in Sosial

 

Tags: , ,

3 responses to “Bangkit dengan Otak Kosong

  1. Anonymous

    April 6, 2010 at 2:27 am

    wew

     
  2. pemburu

    June 22, 2008 at 2:41 pm

    mas pernah lihat ga puisi kebangkitan nasional yang di bacain deddy mizwar pas hari kebangkitan nasional yang lalu..

    entah kenapa puisi itu begitu menyentuh hati saya..

    di tambah penjiwaan dalam pembacaan puisi itu oleh deddy mizwar membuat puisi itu semakin bagus..

    gimana kalo menurut mas??

    Reply :
    Pernah. Postingan itu diantaranya memang terinspirasi oleh puisinya Bang Deddy.
    Cipta, rasa dan karsa yang diinginkan Bang Deddy itu adalah kehendak kita semua.
    Dengan inspirasi gaya ungkapan “negatif” khas Deddy itu saya coba ungkapkan salahsatu arah kebangkitan yang mesti dituju bangsa kita untuk mencuri pehatian dunia dengan prestasi seperti yang kang deddy dan kita inginkan.. Makasih mau berkunjung, salam

     
  3. Yari NK

    June 4, 2008 at 11:21 pm

    Bagaimana kita mau bangkit di tengah2 isu internasional…. wong dalam mengurus isu2 kritikal dalam negeri saja kita masih banyak belum bisa bangkit sepenuhnya….. **sigh**

    Reply :
    Betul, mudah mudahan kita jauh lebih dewasa menanggapi “critical issue”

     

Jangan lupa tulis komentar....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: