RSS

Kentut kuda dan debat kusir

09 Apr

Di waktu senggang di keseharian tempat kerja (mengabdi ?), seringkali diisi dengan diskusi ringan tentang apa saja yang berkaitan dengan kehidupan orang banyak, bisa ekonomi, social, teknik, terkadang filsafat. Seperti umumnya diskusi ringan pengisi waktu, tentunya tanpa referensi apapun, orang berbicara mengeluarkan analisa sosial, politik, ekonomi , dan filsafat hanya berdasarkan logika seadanya. Bisa jadi pendapatnya diperoleh majalah populer atau koran lokal, bahkan hanya sekedar pernah mendengar dari sumber yang tidak punya kompetensi. Diskusi yang diselingi debat terkadang memakan waktu cukup lama. Biasanya diskusi terhenti tatkala mesjid mengumandangkan adzan magrib yang memang terdengan cukur keras ditelinga masing-masing panelis dadakan, Kemudian diskusi diskors sampai batas waktu yang tidak pernah ditentukan sambil menyingsingkan baju untuk mengambil wudlu.

Suatu saat, salah seorang teman menyadari bahwa setiap diskusi dan debat yang seringkali kami lakukan adalah diskusi tanpa kesimpulan. Kami juga tahu karena memang tidak bertujuan untuk menarik sebuah kesimpulan apapun dari diskusi dan debat itu, Biarlah masing-masing menginterpretasikan pendapat orang lain sesuai dengan kapasitasnya untuk mereka-reka dan dijadikan sebagai referensi “asal ada”. Hasil diskusi dan debat dapat dijadikan referensi sementara ketika terjebak pada diskusi ditempat dan komunitas yang lain (lumayan nambahain kepedean toch ?). Saking banyaknya materi yang pernah diperdebatkan sampai-sampai istilah debat pun diperdebatkan.

Lontaran materi debat beberapa hari yang lalu memang berawal dari sebuah pertanyaan “kenapa debat yang tidak pernah menghasilkan kesimpulan disebut Debat Kusir ?” pertanyaan sederhana dan sering kami lakukan justru tidak tahu definisi dan sejarah kenapa istilah itu muncul. Semua termenung sambil mencoba mereka-reka dan mengirangira jawaban (pasti asal ngejawab dech…!). Masing-masing bergelut dengan pikirannya karena kalau tidak berpendapat bisa jatuh nih reputasi (wach sampe gitunya yach…).

Tidak ada kesempatan untuk mencari referensi via mbah google yang serba sok tahu itu, apalagi textbook. Sepanjang sejarah debat dan diskusi yang kami lakukan memang tidak pernah materi diskusi di “home work” kan, semua serba instant ! kalau nggak bisa jadilah kambing conge.

Debat dan diskusi yang tidak berjalan lancar karena masing-masing kurang referensi itu (mungkin istilahnya lupa) diakhiri oleh jawaban yang disampaikan oleh si pelontar materi diskusi :

Debat adalah proses interaksi antara dua atau lebih orang yang membincangkan suatu fenomena dan realita kehidupan berdasarkan interpretasi dan sudut pandang masing-masing pihak yang berinteraksi. Sedangkan kusir adalah orang yang bertanggungjawab mengendalikan kuda yang menghela (menarik) dokar/delman/andong supaya baik jalannya. Istilah debat kusir muncul ketika Birokrat ulung Indonesia pada jaman orde baru Harmoko iseng naik delman (dokar) dari rumahnya menuju tempat kerjanya. Baru beberapa meter delman melaju, tercium bau menyengat yang tidak enak. Kemudian terjadi debat :

Pak Harmoko : “Bang, delmannya kok bau yach ?”.

Kusir yang juga merasakan adanya bau itu langsung menjawab : “iya maaf pak, kudanya kentut !”

Pak Harmoko menimpali. : “ Kudanya masuk angin tuch, makanya kalau malam masukkan ke kandang”

Merasa disalahkan Kusir lantas membantah : “Bukan masuk angin pak, tapi keluar angin”

Sebagai seorang birokrat ulung tentu menjawab lagi sambil berusaha meyakinkan si kusir : “Masuk Angin ah!”

Kusir yang merasa berpengalaman merawat kuda lantas menjawab lagi : “paaaaak, yang namanya kentut itu bukan memasukkan angin tapi mengeluarkan angin , jadi keluar angin ! bapak ini gimana sich ?

Pak Harmoko masih tetap berusaha meyakinkan dengan menambah referensi “menurut petunjuk bapak presiden, “…… kuda itu masuk angin !

Pak Harmoko dan Kusir tetap pada pendiriannya tentang kentut (kuda) sampai akhirnya Pak Hamoko turun dari dokar untuk menuju kantor dan kusir kembali ke jalan untuk mencari penumpang lainnya. Mulai dari situlah istilah Debat Kusir sering digunakan !!!

Birokrat oh.. birokrat, soal kentut aja kok repot ! Mudah-mudahan jaman sekarang mah enggak banyak debat kusir, apalagi yang diperdebatkan cuma soal kentut ! he he he…he.

 

 

 

 
10 Comments

Posted by on April 9, 2008 in Sosial

 

Tags: , , ,

10 responses to “Kentut kuda dan debat kusir

  1. jagonantang

    September 4, 2012 at 9:01 am

    istilah debat kusir sudah ada jauh sebelum harmoko lahir mas.

     
  2. eldewa

    August 16, 2010 at 11:07 pm

    Saya agak sering melihat dan juga kadang terlibat ber-argumentasi atau tukar pendapat saja (bukan debat, wong ngobrol sambil berdiri atau nyruput teh). Umumnya kalau diskusi ringan mulai agak berat,, menjurus poleksosbud/agama/kepercayaan, maka salah satu pihak seriing mulai ‘anget’, ‘dan menuju ‘panas’ karena terpojok dan jika tidak terkendali, wasitnya absen’, maka terlontar kata2 ‘debat kusir!!’ sambil mulai melotot.
    Saya baru dengar istilah ini jadi kaget. Lho hebat juga para kusir Indonesia ya, pinter debat. Tapi kok seakan2 debat kusir merupakan cemoohan ya.
    Sambil bubaran karena sudah cukup ‘panas’ sesudah saling maaf , saya ngelantur begini : Wah gimana jawabnya kalau dikatai orang ‘you debat kaya kusir’? Sampai didepan rumah, belum dapat ide jawaban sampai saya buka mbah google dan ketemu artikel ini.
    Nah sekarang saya dapat ide, terimakasih kpd pemilik blog atau web ini.
    Kalau anda mendapat tegoran ‘sampeyan debat kusir saja’ maka enaknya dijawab begini ;
    Ya lumayan tho mas/mbak, kusir kan pengendali kuda / keledai, dari pada debat kuda/keledai yang jalan saja pakai kacamata-kuda, keledai tunduk melulu gak mau liat kuda/keledai lain alias merasa benat sendiri.
    Piye mas/mbak, ok nggak ide saya … yaa sekali2 ok gitu … nyenangkan orang pahalanya lumayan lho ….

    Dari Aom :
    Iya mas, kita sering melihat dan telibat dalam “debat kusir” . Saya pikir justru dengan debat kusir ini kita diasah untuk bernalar gaya masing-masing, sepanjang debat kusir itu di lingkungan informal…. Saya sendiri sering ingin ketemu sahabat-sahabat saya justru karena selalu berdebat kusir lho. Kalo nggak ada partner..ya nulis di blog ini. biar tambah temen debat..he..he. tanpa kesimpulan.

    terimakasih atas kunjungannya

     
  3. Aom Kris

    July 9, 2010 at 6:27 am

    @ Anonymous :
    Ya, barangkali teman saya yang cerita tentang kentut kuda itu mengadaptasi dari cerita agus salim ya..? Terimakasih

     
  4. Anonymous

    July 9, 2010 at 4:14 am

    maaf ya pak, cerita debat kusir asalnya dari agus salim “the grand old man” bukan dari harmoko.

     
  5. Anonymous

    August 1, 2008 at 7:16 am

    Hehe…memang jd org hidup itu binggung N jd org mati ntu jg binggung,sir!

     
  6. sukamara

    April 21, 2008 at 1:06 pm

    Nambah ya om…kalo ada pejabat debat kusir…biar aja Om. Anggap saja angin kentut juga akan berlalu hehehe

    Reply :
    ya,…makasih tambahannya, tapi kalo dibiarin debat kusir kapan dong merhatiin rakyatnya ?

     
  7. sukamara

    April 21, 2008 at 1:02 pm

    Om…kok ga ke home blog dede lagi..???

    Reply :
    Wah, maaf beberapa hari ini oom lagi tugas ke Yogja…

     
  8. Yari NK

    April 10, 2008 at 11:13 am

    Masih untung debat kusir bukan debat kuda!:mrgreen:
    Menurut saya perdebatan seringkali tidak menemui titik temu bahkan jangankan titik temu, kalau dalam matematika ada dua buah garis, garis2 tersebut tidak pernah mendekat satu sama lain, bahkan saling menjauh atau minimal sejajar terus!
    Begitu pula dengan debat, soalnya masing2 punya referensi pemikiran sendiri, apalagi debat masalah agama/kepercayaan pasti tidak akan “tuntas” bahkan dipastikan topiknya melebar ke mana2!

    Reply :
    Sebaiknya memang terus berbeda yah. Biar dunia ini jadi dinamis terus.

     
  9. ardianzzz

    April 10, 2008 at 4:54 am

    heheh aneh-aneh wae ceritanya..

    Reply :
    Dipikir-pikir dunia ini memang aneh yach ? kaya panggung sandiwara

     
  10. isnuansa

    April 9, 2008 at 10:30 am

    saya belain yang mana ya?
    *belagak bodoh*

    gimana kalo ikut debat kusir aja , non…

     

Jangan lupa tulis komentar....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: