RSS

Hujan Es di Bandung Skenario The Day After Tomorrow ?

31 Mar

Beberapa hari lalu Bandung kembali dilanda hujan es. Kali ini sangat mengejutkan sebab butiran yang jatuh cukup besar (sebesar ujung jari telunjuk orang dewasa). Fenomena aneh untuk ukuran kota yang berada di wilayah tropis. Orang tropis memang jarang mengalami hujan es, sehingga bagi warga Bandung kejadian hujan es ini selain memunculkan kekhawatiran tapi juga berbaur dengan rasa riang campur aneh. Teriakanpun tampaknya jauh dari kekhawatiran tapi justru dibarengi dengan senyum semringah kegirangan. Bahkan anak-anak tak sabar untuk memungut butiran-butiran es yang jatuh.

Menurut pengamatan wartawan yang juga ditulisnya di terbitan esok harinya, malah pengunjung salah satu Faktory Outlet di Jl. Riau berhamburan menepi ke pinggir jendela kaca untuk menonton hujan es. Hujan es di Bandung ternyata dianggap sebagai hiburan yang tidak kalah serunya dibandingkan nonton sepakbola ! (rada didramatisir nich !). Tapi ada benarnya juga, sebab saya yang kebetulan ada dirumah, juga asyik melihatnya di depan jendela. Tak lama kemudian saya jadi teringat pada film yang menggambarkan akibat buruk Pemanasan Global (global warming), judulnya kalau nggak salah The Day After Tommorow karya Roland Emmerich.

Film itu menceritakan tentang kekhawatiran seorang ilmuan karena temperatur bumi menurut hasil penelitiannya mengalami peningkatan. Ilmuan tersebut berargumen tentang temuannya secara ilmiah, bahwa kecenderungan peningkatan temperatur bumi yang diakibatkan penumpukan gas CO dari pembakaran yang tak sempurna akan berdampak pada peningkatan temperatur. Kata ilmuan itu pula, pemanasan global yang terjadi, pada tahap awal akan mengakibatkan penguapan gunung-gunung es di kutub utara dan selatan menjadi lebih banyak. Uap dingin ini kemudian terbawa angin kewilayah lain, termasuk ke daerah tropis. Itulah sebabnya di daerah tropis seperti Indonesia suhunya akan menjadi jauh lebih rendah dan dingin dari biasanya dan terkadang dibarengi dengan hujan es. Dalam film tersebut digambarkan kota New Delhi dan Tokyo yang dilanda Hujan Es Batu sebesar kepala manusia. Berbarengan dengan itu gunung es pun mencair sehingga volume air laut pasti akan meningkat dan menenggelamkan pulau seperti kejadian tsunami di aceh.

Film itu tidak menceritakan tentang akibat langsung dari naiknya temparatur bumi, tapi menekankan pada dampak menguap dan mencairnya gunung es di kutub utara dan selatan. Bahaya yang paling dasyat justru terjadinya penurunan suhu yang lebih ekstrim dibandingkan dengan peningkatan suhu bumi akibat gas CO dengan efek rumah kacanya. Bagi teman-teman yang faham tentang ilmu fisika dan geografi mungkin akan lebih menyelami alur cerita film ini.Kejadian tersebut memang hanya terjadi di sebuah film, namun skenario yang disusun sedemikian rupa logis dan ilmiahnya tersebut, saya pikir film ini bisa dikatagorikan sebagai film fiksi ilmiah. Menurut beberapa ilmuwan kejadian yang terjadi dalam film ini sangat besar sekali terjadi secara nyata. Data dari Intergovernmental panel on Climate
change (IPCC) menyebutkan 100 tahun kedepan perubahan temperatur secara global
akan mencapai 1,5-4,2 derajat celcius. Peningkatan temperatur ini akan mampu mencairkan sebagian kecil es yang berada di kutub sehingga diperkirakan 2.000 pulau di Indonesia dipastikan tenggelam.

Beberapa hari yang lalu warga Bandung mengalami seperti apa yang digambarkan dalam film tersebut walaupun hujan es di Bandung tidak sebesar seperti yang diceritakan di film. Namun sempat membuat saya berfikir bahwa hujan es yang kerapkali terjadi di Bandung, mungkinkah kenyataan dari prediksi ilmuan dalam film The Day After Tommorow ?. Atau bagian dari penyimpangan skenario kebijakan pemerintah dan perilaku masyarakat yang nggak pernah berpihak pada lingkungan hidup ?

Walahualam…

 
9 Comments

Posted by on March 31, 2008 in Sosial

 

Tags: , , , ,

9 responses to “Hujan Es di Bandung Skenario The Day After Tomorrow ?

  1. akas

    September 15, 2010 at 7:12 am

    hujan duit ad ndak,….

    dari kang aom :
    Pernah ada, yang ngarang Latif M

     
  2. anita rizki

    February 21, 2010 at 11:16 am

    hha im very happy

    but im very sad

     
  3. anita rizki

    February 21, 2010 at 11:15 am

    kira kira

    apa ya dampak yg akan terjadi akibat kejadian ini ..

    aku jd takut dengan maksud tuhan kita ,
    apa tuhan inginn memberi peringatan kepada hambaNya semua ????

    dari kang aom :
    perubahan iklim sudah mulai terasa sekarang…banjir dimana-mana diseluruh dunia

     
  4. Fia

    January 26, 2010 at 4:46 am

    Waduh! Bumi lagi danger, nih! Harus cepet diselamatkan!

    dari kang aom :
    ya…mulailah dengan tanam pohon di rumah, ok ?

     
  5. agoes

    May 12, 2009 at 6:11 am

    hai semuanya

     
  6. maman rukmana

    March 27, 2009 at 8:45 am

    Barangkali bapak bisa menjelaskan tentang terjadinya hujan es
    terimakasih

    Dari Kang Aom :
    Hujan es, dalam ilmu meteorologi disebut juga hail, adalah presipitasi yang terdiri dari bola-bola es. Salah satu proses pembentukannya adalah melalui kondensasi uap air lewat dingin di atmosfer pada lapisan di atas freezing level. Es yang terjadi dengan proses ini biasanya berukuran besar. Karena ukurannya, walaupun telah turun ke aras yang lebih rendah dengan suhu yang relatif hangat tidak semuanya mencair. Hujan es tidak hanya terjadi di negara sub-tropis, tapi bisa juga terjadi di daerah ekuator.

    Proses lain yang dapat menyebabkan hujan adalah riming, dimana uap air lewat dingin tertarik ke permukaan benih-benih es. Karena terjadi pengembunan yang mendadak maka terjadilah es dengan ukuran yang besar.

    Hujan es disertai puting beliung berasal dari jenis awan bersel tunggal berlapis-lapis (CB) dekat dengan permukaan bumi, dapat juga berasal dari multi sel awan , dan pertumbuhannya secara vertical dengan luasan area horizontalnya sekitar 3 – 5 km dan kejadiannya singkat berkisar antara 3 – 5 menit atau bisa juga 10 menit tapi jarang, jadi wajar kalau peristiwa ini hanya bersifat local dan tidak merata, jenis awan berlapis lapis ini menjulang kearah vertical sampai dengan ketinggian 30.000 feet lebih, Jenis awan berlapis-lapis ini biasa berbentuk bunga kol dan disebut Awan Cumulo Nimbus (CB). Untuk Lebih jelasnya silahkan Klik disini

     
  7. mark haban

    July 22, 2008 at 8:37 am

    wah koq aku jg punya firasat yg sama, setelah nonton film the day after tomorrow di tv trus liat berita di kutub utara dan bandung ….emang bumi udah mau habis kali ya…

    Reply :
    Secara filosofis memang suatu saat dunia akan hancur juga karena proses alam…dan akan semakin cepat kehancuran itu jika manusia nggak memelihara lingkungan hidupnya…

     
  8. Yari NK

    April 1, 2008 at 1:12 am

    Kalau planet Bumi seperti planet Uranus yang kemiringan sumbunya 98 derajad mungkin akan mengalami hal2 yang aneh seperti di daerah katulistiwa yang selalu dingin dan juga daerah kutub yang selalu panas!! Pokoknya kebalikan dari Bumi sekarang hehehe….

    Btw… terims ya telah mampir di blogku! Maaf harus bisa mengadakan kunjungan balasan sekarang!😀

    Reply :
    Lha iya kang, karena titik kutub utaranya berhadapan langsung dengan sinar matahari. Kalau titik kutub selatan selain dingin pasti gelap malamnya abadi…….! Atau jangan-jangan bumi kita semakin miring yach…, Ketika diciptakan 66,5 derajat. Sekarang ? iiiiiy ngeri !

     

Jangan lupa tulis komentar....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: