Entah apa yang membuat saya selalu ingin membandingkan suasana kota yang saya kunjungi dengan suasana kota Bandung. Jika dilihat dari keruangan dan pola laku orang di siang hari mungkin enggak terlau jauh berbeda. Perbedaan menjadi terlihat mencolok tatkala kita melihat suasana di malam hari. Bandung memang nggak pernah mati di malam hari apalagi malam minggu. Namun suasana santai biasanya ditempat-tempat yang bersifat permanen dan harus ditebus dengan kesiapan dana yang cukup untuk menikmatinya. Keramaian gratisan di malem minggu tidak lebih hanya melihat pengamen remaja lucu dan cantik yang hanya bertepuk-tepuk sambil nyanyi nggak karuan disepanjang jalan Dago. Selebihnya jika ingin santai dengan alunan music dan makanan yang agak enakkan, ya siap-siap aja masuk ke café permanen yang banyak betebaran di daerah Bandung Utara.
Suasana malam jauh berbeda jika kita berkunjung kota-kota di Makasar, Ambon, Banda Aceh atau Samarinda misalnya. Jika ingin minum-minuman ringan atau makan dengan santai sambil duduk-duduk ngobrol dipinggir jalan nggak perlu persiapan uang banyak karena harganya wajar-wajar saja. Di Makasar kita bisa datang ke kawasan Pantai Losari, disana berbagai bentuk café gaul bisa dikunjungi dengan tarif yang nggak mahal. Di Ambon kita bisa ke Jalan Sultan Babullah, di sepanjang Jalan itu terhampar café gaul tanpa atap yang kita bisa pilih sesuai selera. Di Banda Aceh café tanpa atap letaknya di kawasan Rex Jl. Khairil Anwar.
Kreativitas anak muda terlihat menonjol ketika ke Samarinda dan berkunjung untuk ngobrol dan santai di Force Café. Café ini dikelola oleh salah satu LSM di kota itu. Tempatnya di halaman parkir yang beratap langit depan Gedung Pramuka Jalan .A. Yamin No. 6 Samarinda yang disewa pengelola. Meja tanpa kursi yang beralaskan karpet plastic membuat suasana lebih santai dan tidak kaku. Menu minuman dan makanan biasa saja seperti jus buah-buahan, teh tarik, kopi, pecel lele, mie baso dengan harga yang wajar cenderung murah. Sambil ngobrol, minum dan makan kita akan dihibur oleh band-band remaja kota itu, yang alatnya disediakan pengelola dengan sound system yang sederhana namun masih enak untuk didengar. Band-band yang tampil adalah band SMA atau mahasiswa-mahasiswa UNMUL yang kebetulan rekan-rekan pengelola sendiri. Menurut
pengelola café bayarannya cuma makan gratis aja, dan pemain band juga seneng-seneng aja bisa tampil tanpa bayaran. “Itung-itung latihan on stage, mumpung belum jadi bintang dan rekaman” Kalo udah jadi bintang lain lagi dong itungannya” katanya. Kualitas bermain musiknya cukup untuk pemain band pemula apalagi dengan genre reggea. Pelayan dan kasir cafe ini hampir seluruhnya siswa-siswa atau alumni SMA dan mahasiswa. Sedangkan pengunjungnya sebagian besar remaja dan mahasiswa walaupun ada juga keluarga. Café ini hanya buka malam mulai jam 5 sore sampai jan 12 malam. Siang harinya bersih lagi karena digunakan untuk lahan parkir.
Jika anda ke Samarinda dan bosan tinggal di hotel mewah jangan lewatkan untuk berkunjung ke cafe gaul ini. Sepanjang yang saya tahu di Bandung belum ada café gaul jalanan yang dikelola anak muda yang sesantai dan semurah Force Café Samarinda. Padahal banyak lahan parkir gedung milik pemda yang pada malam hari gelap dan sepi. Remaja dan Pemda Bandung masih perlu banyak belajar dari Samarinda

Bisa juga kita bikin café gaul dengan gaya dan kreasi sendiri, tidak perlu ikut2an. Gimana? Huehehe….
Setuju Kang Yari…walaupun ide dasarnya bisa belajar dari yang lain.