Dalam tiga tahun terakhir istilah industri kreatif banyak dibicarakan dan telah menjadi gelombang keempat setelah era pertanian, era industri dan era informasi. Dilihat dari kiprahnya Bandung lebih bisa masuk kedalam kota kreatif dibanding kota budaya, karena perkembangan industri kreatif yang sangat beragam seperti musik, arsitektur, fashion, desain grafis, bahkan kuliner. Bandung adalah salah satu cikal bakal kota kreatif yang diharapkan mampu untuk berkembang dengan baik, dibanding kota yang berbasis kota budaya seperti Yogya atau Bali. Anggapan ini tidaklah berlebihan karenadunia internasionalpun mengakui hal ini dengan dicanangkannya Proyek Bandung Creative City (BCC) yang akan berlangsung selama tiga tahun atas dukungan dari Pemerintah Pusat dan lembaga dunia. Bandung terpilih sebagai proyek percontohan se-Asia Timur yang pencanangannya telah dilakukan di Tokyo Jepang.
Dalam sebuah pertemuan di Yokohama, Ridwan Kamil (arsitek/urban planer, URBANE) menyatakan bahwa dengan segala potensi yang dimilikinya, kota Bandung telah mendapatkan penghargaan dan menjadi bagian dari jaringan pengembangan kota kreatif yang menghubungkan beberapa kota semisal Bangkok, Singapura, Kuala Lumpur, Manila, Hanoi, Hong Kong, Taipei, London, Auckland, Istambul, Bogota dan Glasgow. Sampai tiga tahun ke depan, kota Bandung akan menjadi proyek percontohan pengembangan kota kreatif se-Asia Pasifik.
Hal ini pertama kali diungkap dalam seminar International Education & Employability – Developing the Creative Industries yang diselenggarakan oleh British Council di Bandung pada tanggal 29 s/d 31 Oktober 2007. Dalam pameran Bandung Creative Showcase yang diselenggarakan di Common Room pada waktu yang sama, beberapa delegasi seminar tersebut bahkan menyatakan bahwa mereka harus belajar dari pengalaman kota Bandung yang dapat mengembangkan aktifitas ekonomi kreatif yang berbasis komunitas dan peran usaha kecil dan menengah (UKM).
Apa yang terjadi di kota Bandung bisa
jadi merupakan kasus unik yang hanya bisa terjadi di negara berkembang. Hal ini tentunya merupakan sebuah contoh bagaimana kreatifitas betul-betul mampu menjadi pemicu gelombang pertumbuhan ekonomi baru di kawasan ini. Namun Walikota Bandung Kang Dada pernah menyatakan bahwa, banyak hal yang harus ditata jika ingin Bandung benar-benar menjadi kota jasa yang kreatif. Tidak hanya mempermudah pemberian izin, dia pun akan membenahi infrastruktur yang ada sehingga memadai. Salah satunya, dengan pembangunan dan perbaikan jalan. “Bagaimana bisa menjadi kota jasa jika masih banyak ruas jalan yang rusak dan kemacetan terjadi di mana-mana,” ujarnya.
Creative City bisa jadi merupakan salah satu penggerak dinamika kota. Terlepas dari apa yang dikatakan Kang Dada Saat ini Bandung sudah mampu menciptakan indicator pergerakan ekonomi dengan kreatifitasnya yaitu weekend traffic jam syndrome, yang terjadi di Jalan Cihampelas, Dago, Dipenogoro dan lain-lain. Hingga saat ini Bandung masih mampu menunjukkan kualitasnya sebagai gudang orang-orang kreatif. Semoga perkembangan kreatif ini didukung dengan manajemen hasil kreatif. Warga Bandung yang terkenal kreatif dibidang fashion, music khususnya kelompok band sebaiknya di dukung dengan fasilitas tempat dan pusat pengembangan kreatifitas yang memadai. Karena jika tidak akan terjebak pada pada jenis musik band dan hasil kreatifitas yang seragam dan masal yang terkesan murahan dan dijual secara kodian. Jebakan ini tentunya harus dihindari melalui penghapusan kreativitas latah sekecil apapun. Apabila hal ini dapat terwujud maka keragaman kelompok band, design, pusat kuliner dan kawasan display hasil kreatifitas barudak Bandung akan semakin panjang antriannya. Semoga !

Siip deh. Tapi mudah2an Bandung ke depannya juga bukan hanya kreatif di bidang seni, tetapi juga kreatif dalam pengembangan engineering dan juga kreatif dalam pemecahan problematika2 sosial, pasti jauh lebih yahud lagi deh…..