Postingan ini masih berkisar tentang dunia frekuensi sebagai salah satu alternative berinteraksi social. Harus diakui saat ini proses komunikasi antara teman dan kerabat mungkin lebih banyak via frekuensi dibandingkan dengan cara klasikal tatap muka langsun, efisien efektif dan cepat. Komunikasi via frekuensi radio telah menjadi pilihan utama kita dengan berbagai macam jenis dan merek pesawat, mulai dari Handphone sampai dengan computer dan akses internetnya. Tahun 1970 s.d awal 1980an penggunaan HP dan internet masih belum popular bahkan masih dianggap asing bagi sebagian besar warga Bandung. Alternative komunikasi radio adalah dengan menggunakan frekuensi 3 MHz dengan panjang gelombang 100 meter (cepemeter) atau frekuensi yang agak tinggi sedikit dengan panjang gelombang 2 meter.
Kata yang paling enggan untuk didengar tapi sering disebut-sebut oleh para aktivis cepemeter dulu bisa jadi adalah “SWEEPING”. Kata bahasa Inggris ini memang sangat akrab ditelinga para breaker/barudak cepemeter dan mempunyai konotasi razia bagi pengguna frekuensi 3 MHz-100 meter. Bisa dimaklumi, karena konsekuensi terkena sweeping adalah perampasan seluruh perangkat TX oleh petugas yang bisa jadi tidak akan pernah kembali. Pemancar yang sudah dirancang dan dirakit berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun hilanglah sudah….! Dan harus merancang dan mencari komponen baru di Pasar Cikapundung untuk dirakit lagi. Pasti mengesalkan.
Namun tampaknya barudak cepemeter punya cara untuk terhindar dari sweeping….walaupun antene yang membentang khas “long wire” sulit untuk disembunyikan. Kegiatan sweeping biasanya terpola waktunya…! Terkadang longgar tapi terkadang ketat. Pada saat ketat inilah para cepemeter saling kontak untuk tidak “on air” untuk sementara waktu…tiarap ! tapi tetap standby monitor. Dari pengalaman….saat–saat ketat sweeping adalah menjelang Peringatan HUT RI, Pidato Kenegaraan, Pemilu, Sidang Umum MPR. atau bahkan menjelang tanggal 30 September . Semua barudak cepe meter paham alasan sweeping di saat-saat seperti itu walaupun sebenarnya materi komunikasi di cepemeter jauh dari hal-hal yang bersifat politis apalagi provokasi. Walaupun “conggah” tapi nggak kepikiran untuk berbuat “makar” (MAwa KARep sorangan) pada Negara. Barudak cepe meter hanyalah sebagian kecil masyarakat yang ingin menumpahkan kegemarannya dalam berelektronika khususnya teknologi radio frekuensi sama seperti sekelompok orang yang lebih mampu membeli pemancar Citezen Band (CB) dan 2 meteran “branded” yang pada saat itu relatif mahal bagi ukuran barudak cepe.
Saat-saat “tiarap” tersebut biasanya dimanfaatkan untuk bereksperimen dan mengotakngatik TX beserta Audionya biar tidak “ketinggalan” antara sinyal dan modulasi. Bisa berhari-hari bahkan berminggu-minggu rasa kangen dan getek untuk men”zero beat”kan TX hampir tak tertahankan namun mereka hanya bisa “wait and see”. Frekuensi 3 MHz sepi….hanya suara jeosssss, diselingi suara perempuan berbahasa china atau inggris sayup-sayup. Ada juga yang iseng On Air tapi cuma beberapa menit lalu sepi lagi..! Tapi ada juga, saking ketakutan di razia tiang bambu antene di bongkar sementara…..”meh reugreug !” katanya.
Frekuensi menjadi rame lagi ketika “hari-hari besar Negara” sudah berlalu. Tapi itupun diawali dengan keraguan untuk on air. Para breaker g yunior biasanya menunggu para senior, seolah-olah komandan perang memberi aba-aba untuk maju…!

apakah kang aom memepunyai artkel microsaft visul audio. kalo uadah puya. kapan yang mau diterbitkan.. makasih atas artikelnya