RSS

IPS VS IPA Di SMA

07 Jul

Tepatnya tanggal 28 Juni 2008, saya diundang untuk hadir di salah satu SMAN di kawasan Buahbatu Bandung tempat anak saya menuntut ilmu. Sudah menjadi tradisi jika pembagian raport mesti diambil oleh orangtua, apalagi pembagian raport kali ini menyangkut kenaikan atau ketidaknaikan siswa.

Sehari sebelum pembagian, anak saya kelihatan gelisah, tapi saya yakin bukan karena bakal tidak naik kelas….! Saya tahu persis pada kemampuan anak saya kalau hanya sekedar untuk naik kelas mah..! Lantas apa yang membuatnya gelisah ? Ternyata, hanya karena takut masuk jurusan (ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) !! Wueleh… apa yang salah di jurusan IPS ? Pada tahap ini jawaban anak saya tidak cukup menyakinkan atas pertanyaan “kenapa enggan masuk jurusan IPS ?”

Entah kenapa sejak saya SMA dulu image IPS selalu digambarkan sebagai jurusan yang tidak prestisius, bahkan teman saya dulu memilih mengulang di kelas satu walau naik kelas hanya karena oleh wali kelasnya memilihkan masuk Jurusan IPS. Keengganan masuk Jurusan IPS bisa jadi karena sistem pada waktu itu Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) bisa bebas memilih masuk fakultas apapun baik kelompok fakultas IPS maupun IPA, sedangkan Jurusan IPS hanya bisa memilih kelompok fakultas IPS saja. Mungkin inilah salah satu faktor penyebab IPS tidak terlalu diinginkan oleh para siswa SMA. Jika benar begitu maka kegelisahan siswa enggan masuk IPS tidak dilandaskan pada esensi yang sebenarnya. Artinya bukan dilandaskan pada bakat dan kemampuannya. Lantas siapa yang mestinya meneropong bakat dan kemampuan siswa sehingga ketepatan penjurusan dapat dipertanggungjawabkan dan meyakinkan siswa bahwa jurusan yang dipilihkan wali kelas cocok untuk siswa yang bersangkutan ? Tentunya bukan hanya dilihat dari nilai matematiknya saja. Di lain pihak Gurupun tampaknya memang menganggap Jurusan IPS adalah jurusan khusus bagi para siswa yang pemalas.

Pengalaman menunjukkan dari 10 orang teman saya yang masuk jurusan IPA di SMA dulu, 8 orang diantaranya memilih Fakultas Ekonomi di Perguruan Tingginya… dan Jurusan IPA yang dulu dibanggakannya ketika di SMA dikubur dalam-dalam tertimbun kesuksesan karir di bidang yang selama ini digelutinya… Ekonomi, yang tentunya berbasis IPS….! Bahkan tokoh beken di negeri ini yang lulusan Fakultas IPA malah banyak membelot mendalami perilaku Sosial dibandingkan mendalami keIPAannya. Apa yang salah di IPS ?

About these ads
 
28 Comments

Posted by on July 7, 2008 in Pendidikan

 

Tags: , ,

28 responses to “IPS VS IPA Di SMA

  1. stephenronnie

    May 26, 2012 at 3:51 pm

    bukan maksud saya apa hubungan dari persentase tsb dgn pemeringkatan nilai? kalo persentase mungkin mengarah ke total nilai sih pak bukan ke pemeringkatan nilai. sy jd bingung sistem mana yg dipakai jadinya, total nilai ato penilaian per bidang studi…

    thx

     
  2. Aom Krisdinar

    May 26, 2012 at 3:06 pm

    @ Stephenronnie : TPA = 30 % dan TBSP = 70 % (10% per mata pelajaran) adalah konstribusi maksimum terhadap nilai total. Coba simak kembali penjelasan saya di postingan SNMPTN

     
  3. stephenronnie

    May 26, 2012 at 9:42 am

    pak saya mau bertanya. dengan perhitungan persentil yg diterapkan skrg sistem ny jd gimana ya. kalo begitu kan TPA mau 10% atau 30% kan sama aja ya? Karena persentase yg spt itu kan pengaruhnya ke nilai total peserta. apakah snmptn menggunakan sistem penilaian ganda, yakni yg 100 x (1-peringkat/pserta) dan total akumulasi nilai per orang? soalnya kalo pake yg 100 x (1-peringkat/peserta) TPA mau brapa persen pun ga akan pengaruh kan, kecuali kalo perhitungannya total skor per individu dimana org yg TPA nya 25% dan TBSP nya cm 15% akan lebi unggul secara total skor dari yg TPA nya hanya 10 % tp TBSP nya 28%

    thx

     
  4. Aom Krisdinar

    May 25, 2012 at 4:54 pm

    @ stephenronnie :
    1. minimal 2-2,5 ?. Wah..saya sendiri lupa kalo saya pernah nulis seperti itu, coba klik positingan SNMPTN yang pernah saya tulis http://bandungvariety.wordpress.com/2011/02/14/sistem-penilaian-snmptn/#comment-1058
    2. Yang pernah saya tulis tidak boleh ada nilai mati bukan tidak boleh nilai minus (walaupun nilai minus lebih baik dibandingkan nilai mati)

     
  5. stephenronnie

    May 25, 2012 at 10:55 am

    permisi pak, kebetulan sy akan mengikuti ujian snmptn bbrp mgu lg.. sy saya mau pertanyakan adalah :
    dlm tulisan terdahulu bapak smpat mencantumkan perhitungan2 dlm ujian ptn. yg cukup mendapat perhatian dr saya adalah nilai minimal yg tidak boleh kurang dr 2-2,5 (klo tidak salah). mengenai informasi seperti itu bapak tahu dr mana ya? soalnya selama ini yg saya tahu adalah tidak boleh adanya nilai minus.

    trims

     
  6. Aom Krisdinar

    May 21, 2012 at 2:33 am

    @Stephenronie :
    1. Terimakasih kunjungan dan sharingnya di blog ini.
    2. Saya setuju, perlu diasah daya nalar siswa. tentu saja perlu dicari metode untuk tujuan itu. Salah satunya seperti yang disampaikan oleh anda (soal essay, soal kasus dll). Tentu saja yang paling penting adalah proses pembelajarannya yang tidak melulu dengan metode ceramah dari guru.
    3. Menurut saya IQ bersifat genetis (turunan) artinya jangan berusaha untuk meningkatkan IQ. Tapi berusaha untuk menjadi pinter dan cerdas, karena pinter dan cerdas bisa diusahakan. Oleh sebab itu banyak guru yang berusaha meyakinkan muridnya dengan kalimat “Tidak ada murid yang bodoh, yang ada adalah murid rajin dan malas” (mohon koreksi jika salah). Banyak orang yang IQnya tidak terlalu tinggi tapi cerdas menyikapi berbagai persoalan hidup dan kehidupan serta sukses.
    4. Salam pendidikan kembali.

     
  7. stephenronnie

    May 19, 2012 at 5:41 pm

    - Menurut saya, ips terkesan direndahkan karena tidak perlu berpikir keras tatkala menghadapi ujian dari guru. Peserta didik hanya perlu menghafal (tanpa perlu mengerti mungkin) materi tsb. Padahal, sebenarnya tipe soal ips bisa dibuat sulit dimana pemikiran yg analitis, serta nalar yg baik diperlukan utk menyelesaikannya. Oleh karena itu, dalam membuat soal, guru hendaknya tidak malas untuk meracik soal2 yg ciamik & tdk hanya mengubah kalimat positif dlm buku teks menjadi kalimat introgative, sebab kalau demikian maka murid hny tinggal menghafal. Coba berikan soal esai yg sifatnya kasus (ips byk kasus sosial yg perlu dipecahin pake nalar loh) dan pertanyaannya menuntut anak utk memecahkan & menganalisis masalah bdk teori yg sudah dihafal dan DIMENGERTI. Selain itu, jawaban yg diberikan haruslah logis dan analitis, jd tidak hny bersifat mengarang bebas ngarol ngidul ga jelas.

    – Ya memang si, pelajaran IPS bisa dibaca doang tanpa butuh guru. Tapi cm baca trus hafal tp gapunya kemampuan berpikir utk menggunakan teori yg sudah dihafal utk memecahkan kasus ya sama aja boong. Jadi intinya, bukan jurusannya, tapi kemampuan berpikirnya. Kalo cuman ngafal rumus relativitas einstein, trigonometri, stoikiometri, perhitungan genetika ya semua rasanya bisa. Tp klo ud sampe ke pemecahan masalah kan balik lagi mesti pake logika, jd ga cuman hafal konsep. Ya demikian juga dgn IPS, klo cm hafal kosep ya sama aja boong, mesti bernalar. Itu kenapa soal ujian IPS hendaknya dibuat dlm bentuk esai atau soal kasus yg menuntut kemampuan bernalar. Coba soal ujian ipa cm ditanyain rumus gaya, ya smua bisa jawab lah F = ma. Tp berhubung tuntutan soal lebih tinggi, anak mesti berpikir lebih, alhasil di soal cuma diketahui v, t, dll dan disuru cari a nya baru dapet ke F newton nya.

    – Tolok ukur kecerdasan org tuh apa si? Biasanya org yg jurusan SMA nya IPA akan dikategorikan cerdas. Menurut saya orang IPA itu pinter, tp gak smua loh. Indikator cerdas tidaknya seseorang dlm dunia akademik mutlak ditentukan oleh hasil tes IQ (tp wkt tes kudu serius, jgn waktu lg sakit, tar ga murni hasilnya). Kalo si A anak IPS tp IQ nya 125, sementara si B jurusannya IPA tp IQ cuma 115, terus kita mau bilang kalo si B di atas si A? Dalam hal berhitung si B mungkin boleh lebih cepat, namun belum tentu secara keseluruhan dia lebih baik, karena bisa saja si A pny nalar yg lebih baik, karena balik lg ga smua org IPS nalarnya jelek loh. Kemudian, orang IPS kan lebih byk bersentuhan dgn teks, jd mestinya kemampuan verbal dia lebi bagus. Kalo mau kita analisis, tes IQ itu mengujikan kemampuan bahasa, matematika, dan logika. So? Anak IPS bisa tinggi di bahasa atau logika kok dan kedua bidang itu tetap memengaruhi skor IQ akhir.

    Salam pendidikan indonesia….

     
  8. ranti Sae

    March 7, 2012 at 2:52 pm

    Sama aja sebenarnya ips atau ipa semua tergantung pada bagaimana orang itu penyikapinya ,kalau dia hanya sekedar ingin msuk ipa namun tdk di sertai dengan kemampuan sebaiknya jangan mengambil jurusan yang kamu sekedar inginkan itu ..aku masih kelas X Dan aku masih sangat bingung mau ambil jurusan apa nantinya ..

     
  9. Aom Kris

    July 13, 2011 at 8:51 am

    @ fikri : belajr dengan sungguh agar nilainya bagus

     
  10. Anonymous

    July 12, 2011 at 9:49 am

    Ipa or ips sma aza.bhkan ips itu kta sayah. . .bisa lh maju dari ipa.

     
  11. fikri

    June 11, 2011 at 11:36 am

    gimana cranya mengatasi kemarahan orang tua, ktika saya ternyata masuk kelas ips.

     
  12. Aom Kris

    May 27, 2011 at 4:47 am

    A Satya : Ya, selain guru juga memang orangtua juga punya peran besar dalam memberikan citra tentang IPA dan IPS. Akan sangat indah jika suatu keilmuan atau pekerjaan kita jalani sesuai minat dan bakat. Mudah2an para orangtua tidak memaksakan minat dan bakat dirinya pada bakat dan minat anaknya.

    Semoga anda sukses dan Terimakasih kunjugannya

     
  13. Satya

    May 27, 2011 at 4:02 am

    mungkin sebenarnya yang menjadi kendala bagi anak SMA berasal dari orang tua mereka. Ini saya sharing sedikit pengalaman sendiri..

    waktu SMA dulu saya sebenarnya ingin masuk ke IPS tapi oleh orang tua saya, saya hanya diperbolehkan masuk IPA sambil berkata “mau jadi apa kamu nanti masuk IPS?” hasilnya yah bisa dilihat, nilai pas-pas an sekolah tidak niat…Apalagi saya terlahir kembar dengan kakak kembar saya jago di IPA..waaahhh sudah itu bahkan guru-guru di sekolah pun sering bertanya “kembaran kamu saja bisa masak kamu tidak?” sudah deh paling nyebelin kalau sudah dengar seperti itu (sebelumnya maaf ya tapi waktu itu bener-bener sudah pengen saya balas kata-kata guru tersebut untung saya masih tahu diri dan memegang tata krama)

    heran juga sebenarnya kalau masih ada perusahaan yang memilih berdasarkan IPA dan IPS, saya rasa hal tersebut terlalu sempit sebagai bahan pertimbangan…

     
  14. Krisdinar

    February 14, 2011 at 7:35 am

    Dari Kang Aom Kris :
    Buat bocah ips dan calon ips
    Saya pikir itu hanya soal sudut pandang saja, sebab pemilihan IPA atau IPS semestinya berdasarkan kemapuan diri bukan karena gengsi atau trendy

     
  15. calon ips

    February 13, 2011 at 12:42 pm

    banyak orang yang memilih jurusan ipa hanya demi gelar..(ipa)
    dan banyak juga yang bilang jurusan ips buat orang2yang malas..
    padahal setiap orang kan pnya kmampuannya masing2..

     
  16. bocah ips

    December 1, 2009 at 3:19 pm

    saya bingung kenapa sih…
    makasih mas atas semuanya…
    saya tidak setuju banget dengan statement orang yg menganggap orang ips tu orang urakan dan buangan…..
    thks to all…

     
  17. uma_uma

    November 29, 2009 at 9:08 am

    yang membedakan: objek yang dipelajari..

    Dari kang Aom :
    setuju….tapi pentingnya sama

     
  18. Kang Aom

    July 3, 2009 at 3:48 pm

    IPA dan IPS secara keilmuan memang beda. Tapi IPA dan IPS sama-sama dapat dijadikan jalan untuk meraih sukses.

     
  19. riah

    July 1, 2009 at 12:12 pm

    Jadi sekarang jangan ragu2 tuk memilih jurusan ya……buwat adik2 yang lagi bingung memilih jurusan sekolah

     
  20. riah

    July 1, 2009 at 12:10 pm

    IPA or IPS tidak ada bedanya….sama saja yang penting bisa menguasai setiap mata pelajaran yang di beri oleh guru…lagi pula banyakdari jurusan IPS juga bisa sukses dan malah lebih pintar drai jurusan IPA lw…….

     
  21. welly

    November 14, 2008 at 8:04 am

    semua kembali ke kita kang, kl minat kita memang di sains mau tdk mau kita harus msk ke IPA, dengan tidak memandang rendah IPS tentunya….

    Jawab :
    Benar…sebab yang penting adalah bagaimana kita mensikapi hasil sekolah.

     
  22. MUALIF

    October 11, 2008 at 2:48 am

    Saya Guru BK anak kami IPS harus diberikan motivasi untuk memasuki Perguruan Tinggi: Jurusan apa sebaiknya dan setelah tamat Kerja di dimana

    Reply :
    Saya sendiri sebenarnya tidak punya kompetensi untuk memberikan saran berkaitan dengan pilihan PS siswa jurusan IPS dan dan IPA setelah tamat.
    Namun beberapa norma umum yang harus diperhatikan berkaitan dengan pemilihan Perguruan Tinggi baik PTS maupun PTN di Indonesia adalah : Terakreditasi BAN PT…

    Perkara jurusan yang akan dipilh bergantung pada acuan yang akan digunakan. Beberapa orangtua percaya pada saran psikologi, sehingga sebelumnya perlu di test kemampuan dan bakat. Tapi pada umumnya mengandalkan pengalaman orang lain tentang kemudahan suatu Program Studi dalam mencari kerja. Atau bahkan ada yang mencoba menganalisa dari berbagai kebijakan dan arah pembangunan. Misalnya orang sekarang menganggap bidang IT dan komunikasi sedang berkembang sehingga begitu banyak calon mahasiswa yang masuk ke PS Studi Teknologi komputer dan informatika dan komunikasi.

    Namun berdasarkan pengalaman teman-teman….pada dasarnya orang bekerja karena secara kultur, seseorang dianggap sukses jika telah bekerja di suatu perusahaan. Salah seorang teman saya terpaksa harus keluar dari bisnis yang sukses karena orang tuanya menginginkan menjadi PNS walaupun hanya sebagai staff kantor kecamatan.

    Jadi menurut saya….yang pertama harus dipahamkan kepada siswa dan diri kita adalah kesuksesan tidak hanya menjadi seorang pekerja……dan realnya suruh baca buku auto biografi…Hasyim Ning, Ciputra, bakrie, dan autobiografi orang-orang sukses di Indonesia dan Luarnegeri.

    Dan yang selalu saya ingat adalah pepatah dari salah seorang yang sukses…Janganlah berdoa dengan meminta yang sedikit kepada Tuhan. minta yang besar dan spektakuler sekaligus…..yaitu berdoa agar mampu memberikan rasa bangga dan kebahagian pada orang tua

     
  23. Rizan

    October 6, 2008 at 10:07 am

    Ass,

    Aku anak ips nih, tp aku masih bingung mau kuliah dimana. Aku sih pengennya ke informatika, bisa gak ya? Klo program ips tuh bisa ke jurusan apa aja ya?

    Reply :
    Jangan bingung ah…sebab kita mesti punya prinsip jangan tanya dimana kita kuliah tapi ketika kamu lulus jadi sarjana tanya pada diri kita sampai sejauh mana kita mensikapi hasil sekolah. Sebab banyak orang yang tingkat pendidikannya tinggi tapi perilakunya tidak berpendidikan…(agak filosofis yah…?).

    ke informatika ? kenapa tidak…yang menilai dan menentukan bisa dan nggak bisa bukan orang lain tapi kamu kan ? yang terpenting jangan terpaku pada ketetapan PTN, masih banyak PTS yang lebih mampu berinovasi menggali potensi akademik calon mahasiswa tanpa terbelenggu oleh aturan kaku Depdiknas, ok ?

     
  24. ardianzzz

    September 21, 2008 at 6:23 am

    lamma nggak berkunjung.. langsung ikut nimbrung heheh.. sebenarnya nggak penting mana yg lebih prestisius.. kalau kita mau berfikir secara bijak, logis, dan filosofis, heheh.. sebenarnya nggak penting kita mau belajar ilmu apa. yg penting bagaimana kita mengamalkannya untuk kesejahteraan manusia.. hehe terkesan berlebihan yah..
    lalu bagaimana dengan bahasa, sastra, dan filsafat?

    Reply :
    Iya ….aku sendiri juga dah lama nggak ngeposting…. Kebetulan ada tugas yang harus diselesaikan di bengkulu dan Jambi…terkait dengan masyarakat difable. Salam jumpa kembali mas !

    Betul sekali, secara filosofis nggak penting kita mau belajar apa, namun terkadang kita harus juga paham bahwa secara pragmatis ilmu yang kita pelajari semestinya mampu mensejahterakan manusia termasuk kesejahteraan penyandang ilmunya….he..he…he

     
  25. gua

    August 25, 2008 at 9:21 am

    ipa dan ips sama

     
  26. indra kh

    July 8, 2008 at 2:47 am

    Setuju, IPA atau IPS tak ada beda. Pun begitu jika jurusan kuliah gak nyambung dengan kerjaan. Karena sebenarnya potensi kita sebenarnya adalah apa-apa yang sudah dirintis saat bocah. SMA 2 tahun (di penjurusan) atau kuliah 4 tahun jangan sampai mengunci potensi kita pada bidang lainnya yang sudah terpupuk tahunan, belasan hingga puluhan tahun nanti.

    Reply :
    Sekarang sepertinya sudah umum program studi yang diambil ketika kuliah tidak sesuai dengan kerjaan yang diperoleh…Tapi yang penting halal aja dulu deh…abis gimana lagi kondisinya sih yah ?

    Atau bisa jadi ketika memilih program studi karena terjebak gengsi..he…he….

     
  27. puzpa

    July 7, 2008 at 6:02 am

    ass….
    salam kenal…

    Reply :
    Salam kenal kembali….

     
  28. qizinklaziva

    July 7, 2008 at 1:41 am

    pendidikan juga sekarang sudah menjadi ajang gengsi. jurusan IPA dianggap lebih bonafid, sehingga pelajar banyak yang meliriknya. Sementara jurusan IPS hanya sisa-sisa saja. Dulu saya masuk IPA pengen pindah ke IPS, soalnya di jursan IPA ceweknya terlalu serius belajar…. hehehehe

    Jawab :
    Kalau pendidikan dianggap sebagai ajang gengsi memang bisa difahami karena pendidikan di negeri kita masih merupakan komoditas mewah (lux). Tapi kalau pemilihan jurusan dianggap sebagai ajang gengsi wah….bisa kacau, akibatnya banyak lulusan sipil, geodesi, geologi, tambang, elektro, dll….nganggur nggak punya karya apapun…! Ujung-ujungnya masuk parpol atau bikin LSM yang ngurusin persoalan sosial ekonomi…..! Tunggulah kehancuran jika sesuatu ditangani oleh yang bukan ahlinya..! ya pak yah ?

     

Jangan lupa berkomentar, sebagai penyemangat

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: