RSS

Pengalaman sekolah yang menyeramkan

02 May

Tepat Hari initanggal 2 Mei, bangsa Indonesia menyepakati sebagai hari pendidikan nasional (Hardiknas).Suatu peringatan yang yang selalu dikaitkan dengan kelembagaan formal yang disebut sekolah. Ada benarnya juga sebab pihak yang paling dianggap bertanggung jawab terhadap proses pendidikan di Indonesia saat ini memang sekolah. Itulah sebabnya sebagian masyarakat menggambarkan Hari Pendidikan Nasional tidak lebih sebagai Hari Sekolah Nasional.

Pengalaman bersekolah bagi kita bisa jadi merupakan salah satu pengalaman yang sukar dilupakan. Betapa tidak. Rata-rata orang menghabiskan sebagian waktu dalam hidupnya untuk bersekolah. Mulai dari TK, SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi membutuhkan waktu sampai belasan bahkan puluhan tahun. Pengalaman belajar ini akan lebih lama lagi apabila semangat belajar hingga jenjang S3 pun dilakukan. Biaya yang harus dikeluarkan orangtua untuk membiayai anaknya bersekolah tak terhitung lagi. Biaya sekolah ini bahkan semakin lama semakin sulit dijangkau masyarakat karena sebagian besar masih bergulat dengan kemiskinan. Itulah sebabnya Eko Prasetyo padaTahun 2004 menerbitkan buku menarik berjudul “Orang Miskin Dilarang Sekolah” dan Pengumuman : Tidak ada Sekolah Murah ! yang menggambarkan kondisi mutakhir permasalahan sekolah di Indonesia.

Dalam ingatan kita, sekolah bukan tempat yang selalu menyenangkan, bisa jadi yang didapat adalah pengalaman buruk yang sukar dilupakan. Seperti dipaksa mengunyah-ngunyah segala macam aturan yang serba melarang, berseragam, intimidasi kakak kelas, dan guru/dosen “killer”, harus belajar berbagai mata pelajaran disaat kita harusnya bersosialisasi dengan teman, pekerjaan rumah. pokoknya serba mengerikan. Tak heran yang paling membahagiakan saat-saat sekolah adalah ketika bel tanda istirahat tiba, guru absen, pulang lebih awal karena guru melakukan “upgrading” atau rapat dengan kepala sekolah. Dan yang paling menyenangkan tentunya ketika bel berbunyi tanda belajar disekolah telah usai yang diekspresikan dengan teriakan gembira.  Jika hampir semua murid  merasakan itu semua, tentunya ada sesuatu yang salah dalam sistem pendidikan yang kita terima di sekolah.

Sekolah juga bukanlah tempat yang netral. Ia merupakan campuran pelbagai ideologi mulai dari ideologi orangtua, negara sampai ideologi pasar. Bagi kalangan berduit, sekolah merupakan tempat untuk menjejali anak sedini mungkin dengan macam-macam ketrampilan sehingga anak dijadikan media pameran konsep mendidikmenurut orang tuanya. Tapi bagi kebanyakan, sekolah adalah tempat untuk memberikan bekal masa depan yang jauh lebih baik ketimbang kehidupan orang tuanya.

Lewat sekolah penggambaran kesenjangan sosial menjadi kelihatan jelas dan nyata. Uanglah yang punya wibawa dan kuasa. Sekolah unggulan misalnya memberikan fasilitas lengkap dan mewah untuk belajar. Seolah-olah pendidikan bermutu hanya bisa diperoleh dengan rupiah yang bergepok-gepok. Bagi yang tidak sanggup dan kurang mampu bisa memilih sekolah biasa-biasa saja. Tentu dengan resiko berjalan dengan kondisi apa adanya plus guru dengan kemampuan seadanya.

Tak jauh beda dengan yang terjadi di Perguruan Tinggi. Pencabutan subsidi bagi Perguruan TinggiNegeri dan digantikan menjadi Badan Hukum Milik Negara berarti saatnya otonomi dan konsekuensinya membebani biaya kuliah yang sangat tinggi. Lupakan kampus sebagai tempat “penggodogan” untuk melahirkan mahasiswa kritis. Saat ini, yang penting Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi, lulus secepatnya, kemudian mengadu nasib dengan melamar kerja kesana kemari, atau masuk menjadi anggota salah satu parpol.

Dengan sistem pendidikan yang yang berorientasi uang, masyarakat yang tak mampu dengan sendirinya terpinggirkan dan hanya menjadi penonton belaka. Banyak kebijakan politis pemerintah yang berpihak pada kaum kebanyakan , namun dalam implementasinya sulit untuk dinyatakan efektif, karena pengelola sekolah dan perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta cenderung memilih hukum pasar dibandingkan dengan idealisme pendidikan murah dan gratis seperti yang sering dikampanyekan calon bupati/walikota/gubernur bahkan presiden sekalipun.

Pendidikan yang mestinya memanusiakan manusia, justru mempersiapkan manusia menjadi robot merotot. Sekolah menjadi pabrik manusia baru yang mata duitan. Memandang segala sesuatu hanya bernilai jika mengandung uang.Jika Ki Hajar Dewantoro masih hidup, beliau pasti sedih karena perjuangannya mendirikan Taman Siswa dulu tidak selaras dengan kenyataan dunia pendidikan saat ini. Namun hikmahnya, sekarang kita faham mengapa semakin banyak para pejabat dan politikus yang kepergok KPK terima uang yang tidak jelas juntrungannya di hari minggu…. !!

Selamat Hari Pendidikan Nasional…

About these ads
 
7 Comments

Posted by on May 2, 2008 in Pendidikan

 

Tags: ,

7 responses to “Pengalaman sekolah yang menyeramkan

  1. Aom Kris

    July 28, 2010 at 1:23 am

    Dari Aom :

    @ Spattoppock : hello lagi
    @ Andri : Saya sangat setuju
    @ UPjakarta : terimakasih

     
  2. upjakarta

    July 26, 2010 at 7:50 am

    bagus postingnya

     
  3. andri

    December 9, 2008 at 1:25 pm

    Apaun kebijakan pemerintah tentang pendidikan, jika tidak didukung oleh integritas dan pemberdayaan antar subsistem pendidikan, pemerataan dan kualitas pendidikan akan timpang. Siapapun yang merasa berada dalam sistem pendidikan harus menjalankan tanggung jawabnya dengan baik dan benar, sehingga pemerataan pendidikan dan kualitas output dari proses pendidikan bisa bermanfaat.

     
  4. spattoppock

    May 18, 2008 at 10:49 pm

    Hello my friends :) ;)

     
  5. indra kh

    May 16, 2008 at 1:43 am

    Katanya pemerintah berniat meningkatkan IPM, tapi buktinya makin ke sini biaya sekolah makin mahal. Harga buku terus naik. Di sisi lain bangunan sekolahnya sendiri banyak yang tidak diperhatikan, ujungnya ambruk.

    Jika begitu IPM siapa yang ingin dinaikkan?

    Reply :
    Pemerintah kita kelihatan belum fokus meningkatkan taraf pendidikan rakyatnya. Padahal pendidikan bagi rakyat merupakan hak azazi bukan kewajiban. Jadi konsep “wajib belajar 9 tahun” tampaknya harus dirubah dulu menjadi “hak belajar 9 tahun”

     
  6. petak

    May 11, 2008 at 12:26 pm

    cukup miris melihat belum meratanya akses pendidikan saat ini terutama buat kaum marjinal seperti rakyat miskin, padahal pendidikan masih merupakan sarana mobilitas vertikal di Masyarakat kita.
    Feodalisme gaya baru kah?

    Reply :
    Memang mengkhawatirkan….. Konsep pembangunan pendidkan kita sepertinya diarahkan pada hukum pasar yang bersifat leberalisasi. Kebijakan penarikan subsidi bagi Perguruan Tinggi Negeri dan di rubah menjadi BHMN adalah satu contoh liberalisasi PTN. Konsekuensinya PTN dimungkinkan menarik uang “SPP” sesuai dengan hukum suply dan demand, misalnya Fakultas kedokteran yang demandnya tinggi, anda tahu berapa uang SPPnya ? ratusan juta bo..!

     
  7. Yari NK

    May 11, 2008 at 1:12 am

    Memang di dunia ini banyak terjadi ironisme yaa…. Mereka yang mau sekolah seringkali terkendala oleh mahalnya biaya sekolah…. sebaliknya mereka yang bermewah fasilitas, eh, malah nggak mau sekolah…..

    Saya sangat trenyuh dan prihatin melihat sebuah acara di televisi di mana seorang anak wanita SMA di Papua harus berangkat jam 4 pagi guna sampai di sekolah tepat waktu, karena perjalanan ke sekolah di tempuh lewat hutan dan sungai! Sementara di kota banyak siswa2 bergaya yang ber-hp ria ke sekolah, bahkan ada juga yang bermobil. Tapi toh, prestasi atar keduanya mungkin hanya beda tipis………..

    Reply :
    Keprihatinan dunia pendidikan bagi kaum yang terpinggirkan bukan hanya di Papua, tapi di hampir seluruh wilayah Indonesia…..!Proses pembangunan pendidikan di Indonesia masih memperhitungkan untung rugi sesaat APBN, tidak melihat sebagai sebuah investasi jangka panjang bagi keberlangsungan bangsa Indonesia…..! Kita memeng harus cemas jika suatu saat nanti kita akan kehilangan generasi…! Kalaupun ada generasi penerus tapi dengan sebagian besar otaknya kosong….!

     

Jangan lupa berkomentar, sebagai penyemangat

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: